PAHLAWAN UNTUK ANAKKU

On Kamis, 15 Februari 2024 0 komentar

 

PAHLAWAN UNTUK ANAKKU

 





Aku bersembunyi di balik tembok. Musuh menembak dari mana-mana. Desingan suara peluru laksana nyanyian pencabut nyawa. Mencekam. Banyak rekan prajuritku yang sudah gugur. Mereka berjatuhan di depan mataku. Aku kehilangan keberanian. Tapi aku harus memutuskan apakah akan maju dan menyelesaikan misi yang diberikan kepadaku oleh komandan untuk menyelamatkan rekan-rekanku yang kini menjadi tawanan perang atau menolak perintah dan melarikan diri. Aku ragu namun aku harus cepat mengambil keputusan.

Aku mendapatkan kembali keberanianku. Aku ingin dikenang banyak orang terutama anak-anak aku sebagai seorang pahlawan. Bagiku, lebih baik mati daripada hidup sebagai pengecut. Aku tak mau dikenang sebagai prajurit yang melarikan diri dari perang. Meninggalkan teman-teman dalam kurungan sebagai tawanan demi menyelamatkan diri. Pengecut.

Aku menatap tajam ke tembok di depanku. Perlahan namun pasti aku maju. Aku  menembak dengan ganas dan berlari ke arah musuh. Ini adalah waktu di mana semua pelajaran yang pernah ku dapat di ketentaraan harus dipraktekkan. Aku harus percaya pada apa yang bisa kulakukan. Terlebih lagi percaya pada pertolongan Allah. Allah akan menyelamatkanku. Aku terus berlari ke hadapan.

Setelah melewati banyak rintangan dan terhindar dari peluru-peluru musuh. Aku melihat seorang tentara musuh sedang sembunyi di balik tembok. Dengan cekatan aku mendekati dan menodongkan senjataku

"Di mana mereka?" Aku terengah-engah saat berbicara.

"Siapa?" dia terengah-engah lebih berat dariku mungkin karena takut.

“Tahanan perang.”

Dia mengangkat tangannya dan mengarahkan telunjuknya kearah bagunan disebelah kiriku. 

“Jalan …” perintahku singkat

Aku berjalan dibelakangnya. Aku menyadari bahwa dari pasukanku hanya aku yang tersisa di luar. Aku harus menyelamatkan teman-temanku secepat mungkin sebelum pasukan musuh mendapat bala bantuan.  Aku harus bergabung kembali dengan pasukanku.  Menyiapkan strategi dan amunisi. Berjaga-jaga sambil menunggu kedatangan serangan balik tentara musuh. Tentara musuh itu  membawaku ke tangga yang mengarah ke ruangan bawah tanah.

“Di dalam sana kamu akan menemukan apa yang kamu inginkan. Tolong lepaskan aku sekarang?” dia memohon padaku.

Aku melakukan apa yang dia minta dan ini adalah kesalahan aku. Kesalahan besar. Aku berlari ke bawah, perlahan dan mantap. Senjataku siap ditembakkan kapan saja. Tiba-tiba aku merasakan bau busuk, bau mayat manusia. Jantungku berdebar kencang. Apakah orang-orang yang akan kuselamatkan sudah mati? Apakah misiku gagal?

Aku sudah berada di ruangan bawah tanah.  Aku mencari teman-temanku yang sudah menjadi tawanan. Terus terang aku ragu. Apakah mereka masih hidup atau sudah menjadi mayat busuk bergelimpangan.

Tiba-tiba seseorang memelukku erat dari belakang. Aku meronta dan menendangnya. Aku berusaha lepas dari sergapan itu.   Aku berbalik dan hendak menembak tetapi berhenti. Seragamnya mirip dengan seragamku. Ya Tuhan, dia adalah Danil. Teman  satu timku

“Mana yang lain?” Tanyaku

“Ikut aku…”

Aku berlari mengiringi Danil. Tak berapa lama. Aku menemukan sekitar 15 tentara di timku. Dengan sigap aku dan Danil membobol pintu dan membebaskan mereka. Segera kuperintahkan semuanya untuk  berlari menuju gerbang. Di luar sudah ada helikopter yang menunggu untuk menyelamatkan kami.

Ketika kami sudah sangat dekat dengan gerbang keluar, aku melihat bala bantuan datang di belakang kami. Mustahil bagi kami untuk lari sebelum mereka datang. Ini adalah waktu untuk mengambil keputusan kedua, apakah akan lari atau menyelamatkan timku. Aku memilih opsi kedua. Aku memerintahkan rekan-rekanku untuk berlari menuju helikopter. Aku ada di sana untuk menghadapi musuh. Mustahil untuk melawan mereka yang menggunakan peluru jika di timku hanya aku yang punya senjata. Aku harus mencari opsi lain. Aku membuka pin setiap granat yang aku miliki dan berlari ke arah musuh. Mereka mulai menembakiku.

Peluru pertama mengenai perut sebelah kananku. Perih. Darah segar menyebur. Aku lunglai seketika. Bayangan anak laki-laki yang sedang bermain di lapangan ada di hadapanku. Dia berlari ke arahku dengan gembira. Lalu peluru kedua di dada kiri. Terasa panas. Semburan darah membasahi pakaianku.

“Ayah, ajari aku mengendarai sepeda?” suara anak laki-laki terdengar di telingaku entah dari mana.

Kemudian peluru ketiga tepat dipelipis kananku. Peluru keempat bersarang di dadaku. Menembus sampai ke jantung. Aku terdiam. Tiada lagi rasa sakit. Pandanganku hitam. Semuanya gelap. Tubuhku ambruk. Tersungkur. Badanku melayang ringan.

“Aku akan mengajarimu, anakku. Aku akan…"

www.dodiindranotesaja@blogspot,com

 

0 komentar:

Posting Komentar