MPLS DI SMP NEGERI BERNAS



DIBAWAH BAYANG-BAYANG COVID-19

 


 

 

 

 

 



Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) merupakan salah satu agenda rutin tahunan yang diselenggarakan sekolah. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan peserta didik baru pada seluruh komponen sekolah beserta aturan, norma, budaya, dan tata tertib di dalamnya. Hal inipun dalam rangka mempersiapkan mereka untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan lebih baik. Kemudian memperkenalkan dan menyatukan siswa dengan warga sekolah lainnya dalam rangka membangun lingkungan sosial yang menyenangkan, inspiratif, edukatif, dan kondusif.

 

 

 

 

 

 

 

 










Tujuan selanjutnya adalah, menanamkan wawasan wiyata mandala sehingga peserta didik baru memahami hak dan kewajibannya, termasuk memahami fungsi dan peran sekolah, guru, peserta didik dan masyarakat lingkungan sekolah. Semuanya dalam rangka mewujudkan visi, misi, dan tujuan pendidikan secara komprehensif dan berkelanjutan. Seterusnya adalah menanamkan sikap mental, spiritual, budi pekerti yang baik, tanggung jawab, toleransi, dan berbagai nilai positif lain pada diri siswa sebagai implementsi penanaman konsep iman, ilmu, dan amal;

 

 

 

 

 


 

SMP Negeri Bernas melaksanakan kegiatan MPLS dengan tema “Belajar untuk masa depanmu tanpa batas ruang dan waktu” Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, MPLS kali ini diadakan secara live di ruang kelas dengan jumlah peserta didik sebanyak 20 orang satu kelas. Adapun waktu pelaksanaannya adalah sejak tanggal 05 hingga 07 Juli 2021.

 











MPLS SMP Negeri Bernas kali ini menghadirkan nara sumber yang tidak hanya dari kalangan pendidik SMP Negeri Bernas tapi juga mengundang nara sumber handal dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Pelalawan, Praktisi Pendidikan, dan Alumni. Diharapkan dengan MPLS ini dapat menumbuhkembangkan semangat belajar peserta didik dalam kondisi pandemic yang semakin tidak pasti kapan akan berakhir. Meski dibawah bayang – bayang Covid -19, MPLS SMP Negeri Bernas berjalan dengan lancar dan sukses. Terus semangat dan Salam sehat!

 





SEKOLAHKU MATI SURI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jarum pendek jam dinding  sekolah sudah melewati angka 7  sementara jarum panjangnya di angka 4. Jam 7 lewat 20 pagi. Tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan disini. Aku yang terlambat atau jangan – jangan hari ini tanggal merah. Libur. Aku yakin. Hari ini Rabu. Tidak tanggal merah apalagi hari minggu. Ada apa?

 

  

 


 Kulangkahkan kaki masuk gerbang sekolah. Tidak satu orang Ustad atau ustazah yang menunggu di sana. Terbayang kebiasaan beberapa bulan yang lalu. Deretan ustad ustazah menyambut peserta didik dengan senyum, sapa dan salam. Mempersilakan perserta didik masuk setelah sebelumnya memastikan mereka rapi dan siap untuk belajar. Namun hari ini, aku melintasi gerbang sekolah yang dulu berwarna biru kini berubah merah itu dengan perasaan hampa. Ada yang hilang disana.

 

 


  Taman indah disamping sekolah pun kini tak terurus. Bunga -  bunga itu tumbuh liar. Sebagian ada yang sudah mati kekeringan. Baliho yang dulu tergantung megah kini terkulai lapuk. Ada apa dengan sekolahku?

 

 

 


 Karidor ini pun sunyi. Padahal waktu sudah menunjukkan jam 8 lewat 20. Tak ada peserta didik yang lalu lalang lagi. Berlarian, senda gurau  sambil sesekali berteriak girang. Nafas sekolah seakan berhenti. Sekolahku mati suri. Nadinya berhenti sampai waktu yang belum pasti.

 

 

 

 

 Kebersihannya yang dulu terjaga rapi kini terkoyak karena rasa peduli yang mulai terkikis . Sampah bertumpukan disana sini. Kursi yang seharusnya di ruang kelas tergeletak di lapangan tiada yang mengurusi. Pohon- pohon yang sudah tak lagi indah untuk dipandangi. Kemana rupanya penghuni sekolahku yang dulu sangat empati. Kemana rasa itu bersembunyi. Akankah sekolah ini lama-lama mati? Hilang ditelan pandemi. ( dodiindranoteasaja@blogspot.com )

 





NEGERIKU SUNYI

Karya DODI INDRA

 

Negeriku sunyi laksana pekuburan.

Korban covid yang kini kaku terbaring tenang.

Tempat para jiwa nan malang dimakamkan.

Tempat ayahku diistirahatkan.  

Tempat saudaraku di makamkan.

Tempat tetanggaku diantarkan.

Tempat sahabat terbaikku dibaringkan.

 

Negeriku dibekap sunyi.

Lolong anjing kesepian menyeramkan.

Ditemani gerimis malam dingin menusuk tulang.

Terpapar covid membisu dalam kesendirian.

Terdiam mengisolasi diri dalam kamar-kamar remang.

Dibekap sepi. Sendiri....

 

Negeriku dihantui.

Cemas was – was ketakutan mencurigai.

Kelihatan sehat tapi virus menggerogoti.

Menyebar tanpa disadari.

Serukan suara kereta maut penghantar jenazah sambil menabuh genderang kematian dari kejauhan.

 

Rasa kehilangan itu memaksa  memungut remah kenangan.

Agar tak terperosok dalam sunyi  merayapi savana gelap

Walau waktu telah menjadi batu.

Jam pun telah membeku.

Namun Pandemi ini  tak jua berlalu.

 

 

Pangkalan Kerinci

03 Agustus 2021