SAATNYA BERKACA

On Jumat, 20 Juli 2012 0 komentar






Maafkan kami Ramadhan, 
kepala kami tertunduk malu karena engkau menjanjikan kami berlimpah kebaikan, 
tapi kami tenggelam dalam kehinaan.
(Syaikh Adil bin Ahmad)
Ilustrasi. (inet)
 Jika Ramadhan diibaratkan tamu agung, maka Ramadhan adalah tamu agung yang kerap kita kecewakan. Kehadirannya kita rindukan tapi saat dia datang di tengah-tengah kita, tak ada yang kita berikan selain kelalaian dan rapuhnya kesungguhan.
Ramadhan adalah akumulasi kemuliaan dalam tiap detaknya. Karena Ramadhan kita bisa melakukan hal yang berbeda kadar dan nilainya. Berbeda bentuk, penghargaan dan balasannya di sisi Allah SWT. Ramadhan bukanlah bulan biasa, bukan hari biasa, malam dan siangnya pun bukan hal yang biasa. Tapi tidak semua orang bisa merasakan besarnya keberkahan itu, karena Ramadhan hanya dapat terasa lewat sentuhan iman dan pekanya perasaan.
Ramadhan hadir membawa keberkahan tak terperikan, menjadi sarana efektif untuk kita berkaca diri. Di Ramadhan ini saatnya kita berkaca diri di tengah segala bentuk perburuan kehidupan yang melenakan, hingga alur berbalik dan kitalah yang menjadi buruan kehidupan.
Ramadhan hadir menyediakan tempat rehat dari jiwa-jiwa yang kelelahan. Saatnya kita menengok ke dalam diri, memenuhi panggilan kesadaran untuk berkaca diri. Di tengah kebisingan yang semakin menjadi, perlu rasanya kita kembali membaca ulang tentang siapa kita yang sebenarnya. Karena kita adalah akumulasi dari apa yang kita katakan, perbuat, dan pikirkan. Ramadhan hadir, sudah saatnya kita berkaca diri.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/07/21650/ramadhan-hadir-tiba-saatnya-berkaca-diri/#ixzz218wORini


0 komentar:

Posting Komentar