Tak ada musuh yang tak dapat ditaklukkan oleh cinta.
Tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkan oleh kasih sayang.
Tak ada permusuhan yang tak dapat dimaafkan oleh ketulusan.
Tak ada kesulitan yang tak dapat dipecahkan oleh ketekunan.
Tak ada batu keras yang tak dapat dipecahkan oleh kesabaran.
Semua itu haruslah berasal dari hati anda.
Bicaralah dengan bahasa hati, maka akan sampai ke hati pula.
Kesuksesan bukan semata-mata betapa keras otot dan betapa
tajam otak anda, namun juga betapa lembut hati anda dalam
menjalani segala sesuatunya.
Anda tak kan dapat menghentikan tangis seorang bayi hanya
dengan merengkuhnya dalam lengan yang kuat. Atau, membujuknya
dengan berbagai gula-gula dan kata-kata manis. Anda harus
mendekapnya hingga ia merasakan detak jantung yang tenang
jauh di dalam dada anda.
Mulailah dengan melembutkan hati sebelum memberikannya pada
keberhasilan anda.
**************************************************
Hari Ini.
Aku akan memulainya dengan ucapan syukur dan senyuman bukan
kritikan. Akan kuhargai setiap detik, menit dan jam, karena
tak sedetik pun dapat ditarik kembali.
Hari ini tidak akan kusia-siakan, seperti waktu lalu yang
terbuang percuma. Hari ini takkan kuisi dengan kecemasan
tentang apa yang akan terjadi esok.
Akan kupakai waktuku untuk membuat sesuatu yang kuidamkan
terjadi. Hari ini aku belajar lagi, untuk merubah diri sendiri.
Hari ini akan kuisi dengan karya.
Kutinggalkan angan-angan, yang selalu mengatakan:
"Aku akan melakukan sesuatu jika keadaan berubah."
Jikalau keadaan tetap sama saja, dengan kemurahan-Nya aku
tetap akan sukses dengan apa yang ada padaku.
Hari ini aku akan berhenti berkata: "Aku tidak punya waktu"
Karena aku tahu, aku tidak pernah mempunyai waktu untuk
apapun. Jika aku ingin memiliki waktu, aku harus meluangkannya.
Hari ini akan kulalui seolah hari akhirku. Akan kulakukan
yang terbaik dan tidak akan ditunda sampai esok.
Karena hari esok belum tentu ada.
Tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkan oleh kasih sayang.
Tak ada permusuhan yang tak dapat dimaafkan oleh ketulusan.
Tak ada kesulitan yang tak dapat dipecahkan oleh ketekunan.
Tak ada batu keras yang tak dapat dipecahkan oleh kesabaran.
Semua itu haruslah berasal dari hati anda.
Bicaralah dengan bahasa hati, maka akan sampai ke hati pula.
Kesuksesan bukan semata-mata betapa keras otot dan betapa
tajam otak anda, namun juga betapa lembut hati anda dalam
menjalani segala sesuatunya.
Anda tak kan dapat menghentikan tangis seorang bayi hanya
dengan merengkuhnya dalam lengan yang kuat. Atau, membujuknya
dengan berbagai gula-gula dan kata-kata manis. Anda harus
mendekapnya hingga ia merasakan detak jantung yang tenang
jauh di dalam dada anda.
Mulailah dengan melembutkan hati sebelum memberikannya pada
keberhasilan anda.
**************************************************
Hari Ini.
Aku akan memulainya dengan ucapan syukur dan senyuman bukan
kritikan. Akan kuhargai setiap detik, menit dan jam, karena
tak sedetik pun dapat ditarik kembali.
Hari ini tidak akan kusia-siakan, seperti waktu lalu yang
terbuang percuma. Hari ini takkan kuisi dengan kecemasan
tentang apa yang akan terjadi esok.
Akan kupakai waktuku untuk membuat sesuatu yang kuidamkan
terjadi. Hari ini aku belajar lagi, untuk merubah diri sendiri.
Hari ini akan kuisi dengan karya.
Kutinggalkan angan-angan, yang selalu mengatakan:
"Aku akan melakukan sesuatu jika keadaan berubah."
Jikalau keadaan tetap sama saja, dengan kemurahan-Nya aku
tetap akan sukses dengan apa yang ada padaku.
Hari ini aku akan berhenti berkata: "Aku tidak punya waktu"
Karena aku tahu, aku tidak pernah mempunyai waktu untuk
apapun. Jika aku ingin memiliki waktu, aku harus meluangkannya.
Hari ini akan kulalui seolah hari akhirku. Akan kulakukan
yang terbaik dan tidak akan ditunda sampai esok.
Karena hari esok belum tentu ada.
1.Nafsu mutmainnah
2.Nafsu supiah
3.Nafsu amarah
4.Nafsu lawwamah
Falsafah Barat menyebut nafsu sebagai insting atau kehendak dasar manusia yang tidak bisa dicegah, datang sendiri sebagai pendorong kepribadian.
Mereka membagi insting ini menjadi empat yaitu:
Mereka membagi insting ini menjadi empat yaitu:
a.Egocentros, insting mementingkan diri sendiri
b.Polemos, insting perjuangan
c.Eros, insting menutup aurat
d.Religios, insting mencari Tuhan atau beragama
Berbeda dengan falsafah Barat, maka ahli tasawuf Islam menyebut insting sebagai nafsu serta mengklasifikasinya menjadi lebih lengkap dan sempurna.
Kata "nafst" di dalam bahasa Arab dimaksudkan untuk menyebut makhluk manusia. (ingat dalam ayat al Qur'an: rabbi an nas; Tuhan dari manusia)
Perbedaan jumlah dan jenis nafsu serta kemampuan pengendaliannya merupakan salah satu pembeda antara manusia dengan binatang.
Hal ini sesuai dengan pengertian nafsu dari segi bahasa, yang artinya person, self atau diri sendiri.
Ahli tasawuf mengelompokkan nafsu menjadi dua jenis yaitu:
Kata "nafst" di dalam bahasa Arab dimaksudkan untuk menyebut makhluk manusia. (ingat dalam ayat al Qur'an: rabbi an nas; Tuhan dari manusia)
Perbedaan jumlah dan jenis nafsu serta kemampuan pengendaliannya merupakan salah satu pembeda antara manusia dengan binatang.
Hal ini sesuai dengan pengertian nafsu dari segi bahasa, yang artinya person, self atau diri sendiri.
Ahli tasawuf mengelompokkan nafsu menjadi dua jenis yaitu:
A. Keinginan atau syahwat dibagi dua yaitu:
A1. Nafsu berbuat baik atau mutmainnah, yang mendorong manusia untuk berbuat baik, berkemanusiaan, atau disebut sebagai sifat ketuhanan.
A2. Nafsu asmara atau supiah yang membakar api kebirahian remaja, ingin mempercantik/mempergagah diri
B. Kemurkaan atau godhob dibagi dua yaitu:
B1. Nafsu kemurkaan-marah atau amarah. Dengan nafsu ini manusiaberusahamempertahankandan membangun diri. Tindakannya berupa perbuatannya melawan, berkelahi, berlindung atau melarikan diri.
Sifatnya keras kepala dan suka mencela.
B2. Nafsu untuk mengembangkan diri atau lawwamah, diibaratkan raksasa yang ingin menelan apa saja yang ada di hadapannya.
Sifat tamak serta rakus dari nafsu ini, apabila diatur dan disalurkan dengan baik akan mendorong manusia ke arah kemajuan pembangunan material.
Sifat tamak serta rakus dari nafsu ini, apabila diatur dan disalurkan dengan baik akan mendorong manusia ke arah kemajuan pembangunan material.
Nafsu adalah jiwa manusia dalam kehidupan di dunia.
Ketika berada dalam janin di rahim ibunya, "nafsu" disebut sebagai ruh.
Begitu lahir ia dikatakan sebagai nafsu.
Ketika berada dalam janin di rahim ibunya, "nafsu" disebut sebagai ruh.
Begitu lahir ia dikatakan sebagai nafsu.
Di dalam bahasa Minang, dikenal istilah "raso" yang selalu dikaitkan dengan aktivitas otak.
" Rasa" dapat disebut sebagai "induk" dari nafsu atau dengan kata lainnya raso adalah ruh yang dapat ditampakkan oleh seseorang.
" Rasa" dapat disebut sebagai "induk" dari nafsu atau dengan kata lainnya raso adalah ruh yang dapat ditampakkan oleh seseorang.
Nafst adalah bahasa Arab, kata benda abstrak yang lebih sukar dipahami.
Rasa dapat diekpresikan dengan gerakan fisik tubuh sehingga mudah diaplikasikan.
Rasa dapat diekpresikan dengan gerakan fisik tubuh sehingga mudah diaplikasikan.
Oleh sebab itu penggunaan kata-kata yang merujuk kepada aktivitas nafsu agar selalu didahului oleh kata" rasa".
Misalnya: rasa malu, rasa birahi, perasaan serakah, dst.
Misalnya: rasa malu, rasa birahi, perasaan serakah, dst.
Nafsu diilhami oleh dua kekuatan, yaitu takwa dan kejahatan.
Quran surat 9: 8:"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya".
Quran surat 9: 8:"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya".
Kekuatan baik sumbernya adalah akal-kebijaksanaan manusia dan petunjuk agama. Kekuatan buruk sumbernya nafsu angkara murka manusia dan godaan setan.
Ruh yang ditiupkan Allah sewaktu seseorang berada di dalam rahim ibunya, perlu menjalani latihan pengendalian diri.
Disiplin diri ibu hamil, disiplin bayi, disiplin anak-anak, dan remaja berguna untuk mengembangkan saraf-saraf penahan hormon-hormon yang mempengaruhi/mengatur nafsu seseorang.
Disiplin diri ibu hamil, disiplin bayi, disiplin anak-anak, dan remaja berguna untuk mengembangkan saraf-saraf penahan hormon-hormon yang mempengaruhi/mengatur nafsu seseorang.
Ibadah puasa sangat perlu dilakukankan secara sadar, sehingga nafsu jadi terkendali.
Masing-masing nafsu yang memiliki dua sisi ini tidak boleh terlalu diikuti keinginannya, walaupun nafsu yang kelihatannya baik.
Masing-masing nafsu yang memiliki dua sisi ini tidak boleh terlalu diikuti keinginannya, walaupun nafsu yang kelihatannya baik.
Artinya berbuat kebaikan cukup biasa-biasa saja, jangan terlampau berlebihan.
Kadang-kadang perbuatan yang kelihatannya terpuji tersebut hanyalah perasaan ingin terkenal dan dipuji orang.
Kadang-kadang perbuatan yang kelihatannya terpuji tersebut hanyalah perasaan ingin terkenal dan dipuji orang.
Jika nafsu lawwamah yang ujudnya adalah sifat kikir, serakah, loba tamak, suka makan enak dihilangkan sama sekali, maka tidak akan ada pembangunan gedung-gedung, universitas-pendidikan tinggi, peningkatan kesehatan dll.
Nafsu supiah yang ujudnya rasa birahi dihilangkan, maka manusia akan punah. Hal ini sama saja dengan memusnahkan spesies manusia.
Dari segi bahasa, orang yang menghilangkan nafsu berarti membunuh sifat kemanusiaan atau tidak manusiawi.
Oleh sebab itu nafsu tidak boleh dihilangkan, tetapi dikendalikan supaya orang tetap menjadi manusia.
Dahulukan prestasi dari gengsi
Pesan ditujukan kepada ABG
Kepribadian jangan dikendalikan emosi
Banyak sekali orang mempersiapkan anak keturunan mereka. Dan semua jerih payah mereka, mereka kerahkan untuk itu. Yakni bagaimana supaya anak keturunan mereka itu, sepeninggal mereka menjadi pemilik dan penerus bagi harta kekayaan mereka. Jika manusia hanya sampai ke batas itu saja, dan dia tidak melakukan apapun untuk Allah, berarti itu merupakan kehidupan neraka.
Apa gunanya hal itu bagi dirinya? ketika dia telah wafat, apakah dia akan datang umtuk melihat siapa yang menjadi pemilik bagi harta kekayaan peninggalannya itu? Dan apakah dengan itu dia akan memperoleh ketentraman? justru riwayatnya telah habis dan dia tidak akan pernah kembali ke dunia. Oleh karena itu apalah yang didapat dari jerih payah seperti itu, yakni yang merupakan contoh kehidupan neraka di dunia ini dan juga yang akan menimbulkan azab di akhirat nanti?
Dengan memperhatikan Quran syarif akan diketahui bahwa ada dua janji mengenai tidak akan kembalinya lagi orang-orang yang sudah mati. pertama, untuk orang-orang penghuni neraka sebagaimana difirmankan:
“Wa haroomun ‘alaa qoryatin ahlaknaahaa annahum laa yarji’uun — dan terlarang atas penduduk suatu negeri yang telah Kami binasakan bahwa mereka tidak akan kembali.” (Al-Anbiya: 96). Kata ahlaknaahaa (Kami telah binasakan) juga tertuju pada azab. Dari itu disimpulkan bahwa orang-orang yang memiliki kehidupan rusak tidak akan kembali lagi.
Dan demikian pula terdapat janji yang sama bagi orang-orang penghuni surga. “Khoolidiina fiiha laa yabghuuna anhaa hiwalaa — mereka kekal didalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya”. (Al-Kahfi: 109)
Apa gunanya hal itu bagi dirinya? ketika dia telah wafat, apakah dia akan datang umtuk melihat siapa yang menjadi pemilik bagi harta kekayaan peninggalannya itu? Dan apakah dengan itu dia akan memperoleh ketentraman? justru riwayatnya telah habis dan dia tidak akan pernah kembali ke dunia. Oleh karena itu apalah yang didapat dari jerih payah seperti itu, yakni yang merupakan contoh kehidupan neraka di dunia ini dan juga yang akan menimbulkan azab di akhirat nanti?
Dengan memperhatikan Quran syarif akan diketahui bahwa ada dua janji mengenai tidak akan kembalinya lagi orang-orang yang sudah mati. pertama, untuk orang-orang penghuni neraka sebagaimana difirmankan:
“Wa haroomun ‘alaa qoryatin ahlaknaahaa annahum laa yarji’uun — dan terlarang atas penduduk suatu negeri yang telah Kami binasakan bahwa mereka tidak akan kembali.” (Al-Anbiya: 96). Kata ahlaknaahaa (Kami telah binasakan) juga tertuju pada azab. Dari itu disimpulkan bahwa orang-orang yang memiliki kehidupan rusak tidak akan kembali lagi.
Dan demikian pula terdapat janji yang sama bagi orang-orang penghuni surga. “Khoolidiina fiiha laa yabghuuna anhaa hiwalaa — mereka kekal didalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya”. (Al-Kahfi: 109)
Manusia baru dapat terhindar dari penyakit dosa dan kejahatan-kejahatan tatkala ia meyakini bahwa dosa dan kejahatan itu lebih berbahaya dan lebih memudhoratkan dari seorang pencuri, ular atau binatang buas lainnya dsb. Dan tatkala keperkasaan, keagungan serta wibawa Allah setiap saat menjadi pertimbangannya.
Dalam keseharian kita, terlihat nyata bahwa manusia dapat meninggalkan keinginan, kemauan, dan kehendak-kehendak hatinya. Misalnya seorang yang sakit diabetes, dokter benar-benar melarangnya dari memakan makanan yang manis. Maka orang itu, demi nyawanya, menyentuh makanan-makanan manis pun dia tidak mau. Jadi demikian pula halnya keinginan rohani dan dorongan nafsu. Jika keagungan dan keperkasaan Allah ta’ala telah tertanam di dalam kalbunya dengan benar, maka sikap tidak mentaati Allah akan dia rasakan lebih buruk dari memakan api dan lebih buruk dari maut.
Sekian banyak manusia mengetahui kekuasaan dan wibawa Allah ta’ala, dan sekian banyak dia meyakini bahwa mengingkari-Nya merupakan suatu hukuman yang berat, maka sebanyak itu pulalah akan menjauhi dosa, kemungkaran dan menjauhi sikap melawan hukum. Lihat sebagian orang mengalami “kematian” sebelum maut datang. Apa yang dialami oleh para akhyaar, abdaal, dan quthub, apa yang terdapat pada diri mereka? Jawabannya adalah keyakinan itu tadi. Pengetahuan yang penuh yakin serta qath’i, secara pasti dan secara fitra memaksa seseorang untuk suatu hal tertentu. Persangkaan mengenai Allah ta’ala tidaklah dapat mencukupi. Keraguan tidak tidak dapt memberi manfaat. Pengaruh telah ditanamkan hanya di dalam keyakinan. Pengetahuan yang penuh keyakinan mengenai sifat-sifat Allah ta’ala, justru lebih banyak memberikan pengaruh dibandingkan pengaruh yang ditimbulkan oleh halilintar yang sangat menakutkan. Akibat pengaruh itulah orang-orang menundukkan kepala dan membungkuk.
Jadi seberapa banyak keyakinan yang dimiliki seseorang, sebanyak itu pulalah dia akan menghindari dosa.
Dalam keseharian kita, terlihat nyata bahwa manusia dapat meninggalkan keinginan, kemauan, dan kehendak-kehendak hatinya. Misalnya seorang yang sakit diabetes, dokter benar-benar melarangnya dari memakan makanan yang manis. Maka orang itu, demi nyawanya, menyentuh makanan-makanan manis pun dia tidak mau. Jadi demikian pula halnya keinginan rohani dan dorongan nafsu. Jika keagungan dan keperkasaan Allah ta’ala telah tertanam di dalam kalbunya dengan benar, maka sikap tidak mentaati Allah akan dia rasakan lebih buruk dari memakan api dan lebih buruk dari maut.
Sekian banyak manusia mengetahui kekuasaan dan wibawa Allah ta’ala, dan sekian banyak dia meyakini bahwa mengingkari-Nya merupakan suatu hukuman yang berat, maka sebanyak itu pulalah akan menjauhi dosa, kemungkaran dan menjauhi sikap melawan hukum. Lihat sebagian orang mengalami “kematian” sebelum maut datang. Apa yang dialami oleh para akhyaar, abdaal, dan quthub, apa yang terdapat pada diri mereka? Jawabannya adalah keyakinan itu tadi. Pengetahuan yang penuh yakin serta qath’i, secara pasti dan secara fitra memaksa seseorang untuk suatu hal tertentu. Persangkaan mengenai Allah ta’ala tidaklah dapat mencukupi. Keraguan tidak tidak dapt memberi manfaat. Pengaruh telah ditanamkan hanya di dalam keyakinan. Pengetahuan yang penuh keyakinan mengenai sifat-sifat Allah ta’ala, justru lebih banyak memberikan pengaruh dibandingkan pengaruh yang ditimbulkan oleh halilintar yang sangat menakutkan. Akibat pengaruh itulah orang-orang menundukkan kepala dan membungkuk.
Jadi seberapa banyak keyakinan yang dimiliki seseorang, sebanyak itu pulalah dia akan menghindari dosa.
Defeated by Love
The sky was lit
by the splendor of the moon
by the splendor of the moon
So powerful
I fell to the ground
I fell to the ground
Your love
has made me sure
has made me sure
I am ready to forsake
this worldly life
and surrender
to the magnificence
of your Being
this worldly life
and surrender
to the magnificence
of your Being
From: Love Poems of Rumi
When the Rose is gone
When the rose is gone and the garden faded
you will no longer hear the nightingale's song.
The Beloved is all; the lover just a veil.
The Beloved is living; the lover a dead thing.
If love withholds its strengthening care,
the lover is left like a bird without care,
the lover is left like a bird without wings.
How will I be awake and aware
if the light of the Beloved is absent?
Love wills that this Word be brought forth
you will no longer hear the nightingale's song.
The Beloved is all; the lover just a veil.
The Beloved is living; the lover a dead thing.
If love withholds its strengthening care,
the lover is left like a bird without care,
the lover is left like a bird without wings.
How will I be awake and aware
if the light of the Beloved is absent?
Love wills that this Word be brought forth
From: Mathnawi I, 23-31 ~ The Teachings of Rumi
Langganan:
Postingan (Atom)