KEBESARAN HATI, TITO

On Minggu, 14 Juni 2026 0 komentar

 




KEBESARAN HATI, TITO

DODI INDRA

 

Di sebuah hutan yang subur nan hijau. Tinggalah seekor elang yang sangat gagah dan perkasa. Elang itu bernama Argo. Argo selalu bangga dengan kekuatannya dan merasa bahwa dia tak perlu bantuan dari siapapun. Dia sering terbang rendah di langit untuk menunjukkan kehebatannya kepada semua hewan di hutan itu.

Suatu hari, Argo terbang semakin tinggi dari biasanya. Dia berputar-putar di udara mencari mangsa. Matanya yang tajam menatap setiap gerakan di hutan. Namun, suara petir tiba-tiba menggelegar. Argo terkejut. Dia tak menyadari kalau hujan lebat disertai angin kencang akan segera turun.  Angin kencang menerpa tubuhnya.  Argo terhempas. Badannya tak kuat melawan dasyatnya angin.  Argo terseret angin dan akhirnya terjebak di antara ranting-ranting pohon besar. Tubuh perkasa itu terjepit diantara ranting puhon. Argo berjuang mati-matian untuk melepaskan dirinya, tetapi semakin dia bergerak, semakin jauh dia terjebak.

Sementara itu, Tito si tikus, yang kebetulan berlari di bawah pohon tempat Argo terjebak, mendengar suara teriakan Argo. Meskipun Tito awalnya merasa takut dan ragu, dia merasa iba melihat kondisi Argo yang terjebak. Tanpa pikir panjang, Tito mulai memanjat pohon dengan lincahnya.

 

"Siapa di sana?!" teriak Argo dengan suara tinggi dan penuh kesombongan.

"Aku Tito, seekor tikus," jawab Tito dengan lembut.

Argo mengernyitkan keningnya. "Apa yang bisa kau lakukan, tikus kecil?"

"Tidak banyak, tetapi aku akan mencoba membantumu," jawab Tito tanpa ragu.

“Membantuku… Tubuhku yang kuat ini saja tak bisa mematahkan ranting ini, apalagi tubuh lemahmu itu”

“Aku akan coba. Mudah – mudahan aku bisa menyelamtkanmu”

 

Dengan tekad yang kuat, Tito berusaha sekuat tenaga untuk meraih ranting-ranting yang menahan Argo. Meskipun kecil dan lemah, Tito tidak pernah menyerah. Dengan gigi pengeratnya yang tajam, Tito mengergaji ranting pohon. Akhirnya, ranting-ranting itu berhasil dipatahkan, membebaskan Argo dari perangkapnya.

Argo terkejut dengan tindakan kecil tapi besar hati Tito. Dia merasa malu karena telah menunjukkan sikap sombongnya sebelumnya. Dengan rendah hati, dia berkata pada Tito,

"Terima kasih, Tito. Aku telah salah memandangmu. Kau telah menunjukkan bahwa keberanian dan kekuatan bukanlah milikku saja."

Tito tersenyum bahagia mendengar kata-kata itu. Mereka berdua kemudian menuju ke sumber air terdekat untuk minum dan bercakap-cakap. Sejak saat itu, Argo belajar untuk lebih rendah hati dan menghargai bantuan dari orang lain, sementara Tito mendapat teman baru yang perkasa dan bijaksana.

 

0 komentar:

Posting Komentar