KEBESARAN HATI, TITO
DODI INDRA
Di sebuah hutan yang subur
nan hijau. Tinggalah seekor elang yang sangat gagah dan perkasa. Elang itu
bernama Argo. Argo selalu bangga dengan kekuatannya dan merasa bahwa dia tak
perlu bantuan dari siapapun. Dia sering terbang rendah di langit untuk menunjukkan
kehebatannya kepada semua hewan di hutan itu.
Suatu hari, Argo terbang
semakin tinggi dari biasanya. Dia berputar-putar di udara mencari mangsa. Matanya
yang tajam menatap setiap gerakan di hutan. Namun, suara petir tiba-tiba menggelegar.
Argo terkejut. Dia tak menyadari kalau hujan lebat disertai angin kencang akan
segera turun. Angin kencang menerpa
tubuhnya. Argo terhempas. Badannya tak
kuat melawan dasyatnya angin. Argo
terseret angin dan akhirnya terjebak di antara ranting-ranting pohon besar. Tubuh
perkasa itu terjepit diantara ranting puhon. Argo berjuang mati-matian untuk
melepaskan dirinya, tetapi semakin dia bergerak, semakin jauh dia terjebak.
Sementara itu, Tito si
tikus, yang kebetulan berlari di bawah pohon tempat Argo terjebak, mendengar
suara teriakan Argo. Meskipun Tito awalnya merasa takut dan ragu, dia merasa
iba melihat kondisi Argo yang terjebak. Tanpa pikir panjang, Tito mulai
memanjat pohon dengan lincahnya.
"Siapa di sana?!" teriak Argo
dengan suara tinggi dan penuh kesombongan.
"Aku Tito, seekor tikus," jawab
Tito dengan lembut.
Argo mengernyitkan keningnya. "Apa yang
bisa kau lakukan, tikus kecil?"
"Tidak banyak, tetapi aku akan mencoba
membantumu," jawab Tito tanpa ragu.
“Membantuku… Tubuhku yang kuat ini saja tak
bisa mematahkan ranting ini, apalagi tubuh lemahmu itu”
“Aku akan coba. Mudah – mudahan aku bisa
menyelamtkanmu”
Dengan tekad yang kuat, Tito
berusaha sekuat tenaga untuk meraih ranting-ranting yang menahan Argo. Meskipun
kecil dan lemah, Tito tidak pernah menyerah. Dengan gigi pengeratnya yang
tajam, Tito mengergaji ranting pohon. Akhirnya, ranting-ranting itu berhasil
dipatahkan, membebaskan Argo dari perangkapnya.
Argo terkejut dengan
tindakan kecil tapi besar hati Tito. Dia merasa malu karena telah menunjukkan
sikap sombongnya sebelumnya. Dengan rendah hati, dia berkata pada Tito,
"Terima kasih, Tito.
Aku telah salah memandangmu. Kau telah menunjukkan bahwa keberanian dan
kekuatan bukanlah milikku saja."
Tito tersenyum bahagia
mendengar kata-kata itu. Mereka berdua kemudian menuju ke sumber air terdekat
untuk minum dan bercakap-cakap. Sejak saat itu, Argo belajar untuk lebih rendah
hati dan menghargai bantuan dari orang lain, sementara Tito mendapat teman baru
yang perkasa dan bijaksana.

0 komentar:
Posting Komentar