Diposting oleh
DODI INDRA BERNAS
On Selasa, 30 Juni 2026
CURAHAN HATI SEORANG
GURU
CURHATKU,
DARI ORANG YANG KAU PANGGIL GURU
Untukmu
duhai anak-anakku
Dengarlah
curahan isi hatiku
Orang
yang kau panggil guru
Anakku,
tidakkah kau tahu?
Disaat
embun masih menetes di lembaran daun pohon waru
Dikala mentari
enggan menampakkan diri malu - malu
Kubangun
buka mata menyambut azan Shubuh yang mengalun syahdu
Kuayun
langkah kaki terburu buru
Mengejar
bel berbunyi penanda waktu
Terbayang
senyum di bibirmu
Menyambut
hangat kedatanganku di depan pintu
Harapku
Kau
akan jawab salamku dengan kompak menyeru
Ucapan
lembut sapamu menyejukkan kalbu
Namun...
Ternyata
itu hanya ilusi, mimpi harapan palsu
Engkau
sibuk membuat PR Matematika dari temanku
Hingga
kau tak sadar aku telah menatapmu
Dari
lima menit yang lalu
Anakku,
Kucoba
sabar memberi ilmu
Disaat
engkau tak peduli tak mau tahu
Kudorong
memotivasimu
Dikala
engkau merasa tak mampu
Dengan
keikhlasan aku mendidikmu
Kuteladankan
santun lisan sopan berprilaku
Dengan
cinta aku bimbing tanganmu
Saat
kau bingung arah mana hendak dituju
Dalam
cercaan, makian, hinaan, cibiran menusuk kalbu
Aku
tetap tegar kokoh digugu
Dalam
tekanan, paksaan, ancaman, sakit ngilu
Aku
tetap setia disampingmu
Walau
badanku makin lemah tulang pegal linu
Ku
tetap bangkit sembunyikan malas dan juga malu
Karena
itulah darmaku
Sebagai
seorang guru
Anakku
Ku
marah karena ku ingin kau terarah
Ku
menghardik karena ku ingin kau pintar dan cerdik
Ku
bicara nyinyir karena kau lamban berfikir
Ku
cubit pertanda ku sayang bukannya genit
Ku diam
pertanda aku mulai tak senang
Ku
sabar walau kau tak sadar - sadar
Akhirnya
ku cuek, walau kau ejek
Karena
sikapmu sudah diluar nalar
Kurang
ajar melewati batas kewajaran
Anakku
Aku
bukanlah orang hebat
Ku tak
punya harta, kuasa, apalagi dekingan pejabat
Aku
orang biasa, hanya rakyat jelata
Yang
terkadang lupa sesekali juga berdusta
Anak-anakku
Aku
hanya memberi motivasi, engkau yang berprestasi
Aku
hanya mengispirasi, engkau yang berkibar di tiang tertinggi
Ku coba
beri pelita, engkau yang gemerlap gempita
Ku coba
beri wama, engkau yang akan bereuforia
Ku
tunjukkan arah engkau yang berjalan gagah
Ku
sarankan proses engkau yang menggapai sukses
Anakku,
Aku
bukanlah pesulap
Sim
salabim tercipta siswa berbudi mulia
Abra
kadabra terbentuk insan cendikia
Sekejap
mata, muncul siswa berbakat, beraneka keterampilannya
Tidak...
Aku
bukan pesulap anakku
Aku
hanya guru. Hanya seorang guru.
Taklah
ku mampu ubah pesimis jadi optimis
Tak lah
ku bisa ubah, getir menjadi manis
Walau tertatih,
merintih, mengais, histeris
Meski
pasang wajah bengis, sadis, sampai melankolis
Aku
akan tetap begini, engkaulah yang akan bermetamorphosis
Anakku,
Aku
juga bukan malaikat
Harus
tersenyum manis, walau hati teriris
Tak
boleh pesimis, walau sering tak digubris
Bukan
sekedar absensi tetapi harus ukir prestasi, berdedikasi
Aku
bukan malaikat anakku
Harus
selalu empati walau sering tak dapat simpati
Berpenampilan
rapi bukan sekedar mandi dua kali sehari
Tak
boleh salah walau terkadang kehilangan arah
Harus
selalu riang walau hati terluka parah
Tak
boleh mengeluh, harus tegar, dalam keringat berpeluh
Tak
boleh menggerutu, walau kalian bikin hatiku ngilu
Anakku
Aku
bukan orang hebat
Aku
bukan pesulap
Aku
juga bukan malaikat
Aku
bukanlah siapa siapa
Aku ini
hanya gurumu
Hanya
gurumu
Gurumu
Sampai
kau tamat, terima ijazah dan SKHU
Salam
terakhir
Setelah
itu kau pun berlalu
Selanjutnya
Hanya
tuhanlah yang tahu
Tags:
Puisi
0 komentar:
Posting Komentar