PERANG BADAR

PERANG PERTAMA UMAT ISLAM MELAWAN KAUM QURAISY

 

Perang Badar adalah salah satu peperangan penting dalam sejarah Islam yang melibatkan kaum Muslim Madinah dan kaum Quraisy Makkah. Peperangan ini terjadi pada 17 Ramadan tahun ke-2 Hijriah, atau sekitar tahun 624 Masehi.

Perang Badar disebut demikian karena lokasi pertempuran terjadi di sebuah lembah bernama Badar, yang terletak antara Makkah dan Madinah. Lembah ini memiliki sumber mata air yang cukup penting bagi masyarakat Arab pada masa itu.

ASAL-USUL NAMA BADAR

Nama "Badar" sendiri berasal dari nama sebuah sumur yang terletak di lembah tersebut. Sumur ini dikenal dengan nama "Badar" dan menjadi tempat persinggahan bagi kafilah-kafilah dagang yang melintasi wilayah tersebut.

MENGAPA PERANG BADAR TERJADI DI LEMBAH BADAR?

Nabi Muhammad SAW memilih lembah Badar sebagai lokasi pertempuran karena beberapa alasan:

  • Lokasi Strategis: Lembah Badar terletak di jalur perdagangan yang penting antara Makkah dan Madinah. Dengan menguasai lembah ini, kaum Muslim dapat mengganggu jalur perdagangan kaum Quraisy.
  • Sumber Air: Lembah Badar memiliki sumber mata air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pasukan Muslim yang berjumlah sekitar 313 orang.
  • Kondisi Geografis: Lembah Badar memiliki kondisi geografis yang menguntungkan bagi pasukan Muslim yang jumlahnya lebih sedikit. Lembah ini dikelilingi oleh bukit-bukit yang dapat dijadikan sebagai tempat perlindungan.

FAKTA PENTING TENTANG PERANG BADAR

·        Perang Badar adalah nama yang paling umum dan dikenal untuk peristiwa bersejarah ini.

·        Perang Pertama menunjukkan bahwa ini adalah perang pertama yang dihadapi oleh umat Islam setelah hijrah ke Madinah.

·        Umat Islam Melawan Kaum Quraisy menjelaskan pihak-pihak yang terlibat dalam perang ini, yaitu umat Islam yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW melawan kaum Quraisy dari Makkah.

 

  



LATAR BELAKANG PERANG BADAR

Perang Badar bermula dari keinginan kaum Muslim untuk mencegat kafilah dagang Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan yang membawa harta benda dalam jumlah besar dari Syam. Nabi Muhammad SAW mendengar kabar bahwa kafilah dagang Quraisy yang membawa kekayaan dalam jumlah besar dari Syam menuju Makkah. Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya berencana untuk mencegat kafilah dagang tersebut. Tujuannya adalah untuk mengambil kembali sebagian harta mereka yang pernah dirampas oleh kaum Quraisy di Makkah.

Namun, rencana ini diketahui oleh Abu Sufyan, pemimpin kafilah dagang Quraisy. Abu Sufyan kemudian mengirim utusan ke Makkah untuk meminta bantuan. Kaum Quraisy Makkah yang merasa terancam dengan tindakan kaum Muslim, akhirnya mengirimkan pasukan besar yang berjumlah sekitar 1000 orang untuk melindungi kafilah dagang mereka.

JUMLAH PASUKAN YANG TERLIBAT PERANG BADAR

Jumlah pasukan Muslim yang ikut dalam Perang Badar hanya sekitar 313 orang, dengan jumlah persenjataan yang sangat minim. Mereka hanya memiliki beberapa pedang, tombak, dan beberapa ekor kuda. Sementara itu, pasukan Quraisy berjumlah sekitar 1000 orang, dengan persenjataan yang lengkap dan jumlah kuda yang lebih banyak.

 

PERISTIWA PENTING DI BALIK PERANG BADAR

Perang Badar adalah salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam. Meskipun jumlah pasukan Muslim jauh lebih sedikit daripada pasukan Quraisy, mereka berhasil memenangkan pertempuran dengan bantuan Allah SWT. Kemenangan ini memberikan dampak yang sangat besar bagi perkembangan agama Islam di kemudian hari.

 

KRONOLOGI PERANG BADAR

Persiapan dan Pergerakan Pasukan

1.   Pengintaian: Nabi Muhammad SAW mendengar kabar tentang kafilah dagang Quraisy yang kaya raya kembali dari Syam (Suriah) menuju Makkah, dipimpin oleh Abu Sufyan. Beliau mengirim beberapa sahabat untuk mengintai kafilah tersebut.

2.   Seruan Jihad: Nabi Muhammad SAW menyerukan kepada kaum Muslimin untuk bersiap menghadapi kemungkinan pencegatan kafilah atau pertempuran jika diperlukan.

3.   Pergerakan Pasukan Muslim: Sekitar 313 pasukan Muslim yang bersenjata minim bergerak menuju Badar, sebuah lembah yang memiliki sumber air, dengan harapan dapat mencegat kafilah dagang Quraisy.

4.   Pergerakan Kafilah Quraisy: Abu Sufyan, pemimpin kafilah, mendapat informasi tentang pergerakan pasukan Muslim. Ia mengubah rute kafilah dan mengirim utusan ke Makkah untuk meminta bantuan.

5.   Pergerakan Pasukan Quraisy: Kaum Quraisy di Makkah, yang merasa terancam oleh kekuatan Muslim yang semakin besar, mengirimkan pasukan yang lebih besar dari 1000 orang dengan persenjataan lengkap untuk melindungi kafilah mereka.

Pertemuan Di Badar

1.   Posisi Strategis: Nabi Muhammad SAW memilih posisi yang strategis di lembah Badar, dekat dengan sumber air, untuk keuntungan pasukan Muslim.

2.   Formasi Perang: Nabi Muhammad SAW mengatur formasi pasukan Muslim dengan rapi.

3.   Tantangan dan Doa: Sebelum pertempuran dimulai, Nabi Muhammad SAW berdoa kepada Allah SWT memohon pertolongan dan kemenangan.

Jalannya Pertempuran

1.   Duel Pembuka: Pertempuran dimulai dengan duel antara beberapa tokoh dari kedua belah pihak. Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad SAW, menunjukkan keberanian dan kekuatan yang luar biasa dalam duel tersebut.

2.   Serangan Umum: Setelah duel pembuka, kedua pasukan terlibat dalam pertempuran sengit. Meskipun jumlah pasukan Muslim jauh lebih sedikit, mereka berjuang dengan semangat tinggi dan keyakinan akan pertolongan Allah SWT.

3.   Pertolongan Allah SWT: Dalam beberapa riwayat, disebutkan bahwa Allah SWT mengirimkan bantuan berupa malaikat yang ikut bertempur di pihak Muslim. Hal ini memberikan semangat dan kekuatan tambahan bagi pasukan Muslim.

4.   Kekalahan Quraisy: Pasukan Quraisy, yang kalah dalam jumlah dan semangat, mulai mengalami kekalahan. Banyak tokoh penting mereka yang tewas dalam pertempuran ini, termasuk Abu Jahal, salah satu pemimpin utama mereka.

Akhir Pertempuran

1.   Kemenangan Muslim: Setelah pertempuran berlangsung sekitar dua jam, pasukan Muslim meraih kemenangan gemilang.

2.   Tawanan Perang: Banyak pasukan Quraisy yang ditawan. Nabi Muhammad SAW memperlakukan tawanan perang dengan baik, ada yang dibebaskan tanpa tebusan, ada yang dibebaskan dengan tebusan, dan ada pula yang diajari membaca dan menulis.

3.   Kerugian Quraisy: Kaum Quraisy mengalami kerugian besar dalam pertempuran ini. Selain kehilangan banyak pasukan dan pemimpin mereka, mereka juga kehilangan prestise dan kekuatan mereka di wilayah Arab.

Hikmah dari Perang Badar

Perang Badar adalah salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam. Kemenangan Muslim dalam perang ini memberikan banyak pelajaran dan hikmah, antara lain:

  • Keyakinan dan Pertolongan Allah: Kemenangan dalam Perang Badar membuktikan bahwa keyakinan yang kuat kepada Allah SWT dan ketaatan kepada-Nya adalah kunci kemenangan, meskipun dalam kondisi yang sulit.
  • Keberanian dan Semangat Juang: Pasukan Muslim menunjukkan keberanian dan semangat juang yang tinggi dalam menghadapi musuh yang lebih besar dan lebih kuat.
  • Strategi dan Kepemimpinan: Nabi Muhammad SAW menunjukkan kepemimpinan yang bijaksana dan strategi perang yang cerdik dalam mengatur pasukan dan memilih posisi yang tepat.
  • Pentingnya Persatuan: Kemenangan dalam Perang Badar juga merupakan hasil dari persatuan dan kerjasama yang baik antara pasukan Muslim.

 

  


 

Jalannya Perang Badar

Meskipun jumlah pasukan Muslim jauh lebih sedikit, mereka memiliki semangat juang yang tinggi dan keyakinan yang kuat akan pertolongan Allah SWT. Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin pasukan Muslim, mengatur strategi perang dengan sangat baik. Beliau memilih tempat yang strategis untuk berperang, yaitu di lembah Badar, sebuah lembah yang memiliki sumber air.

Ketika kedua pasukan bertemu, pertempuran sengit pun terjadi. Meskipun kalah dalam jumlah, pasukan Muslim dengan gagah berani melawan pasukan Quraisy. Dengan izin Allah SWT, pasukan Muslim berhasil memenangkan pertempuran tersebut. Banyak tokoh penting dari kaum Quraisy yang tewas dalam pertempuran ini, seperti Abu Jahal, Utbah bin Rabiah, dan Syaibah bin Rabiah.

Hikmah dari Perang Badar

Perang Badar adalah kemenangan besar bagi kaum Muslim. Kemenangan ini menunjukkan bahwa kekuatan tidak hanya bergantung pada jumlah pasukan dan persenjataan, tetapi juga pada keyakinan dan pertolongan Allah SWT. Perang Badar juga menjadi bukti keberanian dan keteguhan hati kaum Muslim dalam membela agama Islam.

Setelah perang berakhir, Nabi Muhammad SAW memperlakukan tawanan perang dengan baik. Beliau membebaskan tawanan perang yang bersedia membayar tebusan, dan mengajari mereka yang tidak bisa membayar tebusan untuk membaca dan menulis.

Perang Badar adalah tonggak penting dalam sejarah perkembangan Islam. Kemenangan dalam perang ini memberikan dampak yang besar bagi kaum Muslimin dan menjadi motivasi bagi mereka untuk terus berjuang dan mempertahankan agama Islam.


 






HANZHALAH BIN ABI AMIR

PENGANTIN UHUD YANG DIMANDIKAN MALAIKAT

 

Hanzhalah bin Abi Amir adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela agama Islam. Kisah hidupnya yang singkat namun penuh makna memberikan banyak pelajaran berharga bagi umat Muslim.

Kelahiran dan Keislaman

Hanzhalah lahir di Madinah dari keluarga terhormat. Ayahnya, Abu Amir, adalah seorang tokoh terkemuka di kalangan suku Aus. Namun, ayahnya tidak masuk Islam dan bahkan menjadi penentang Nabi Muhammad SAW. Meskipun demikian, Hanzhalah tidak mengikuti jejak ayahnya. Ia memilih untuk memeluk Islam dan menjadi salah satu sahabat setia Nabi.

Perang Uhud

Hanzhalah dikenal karena keberaniannya dalam Perang Uhud. Pada saat itu, ia baru saja menikah. Malam sebelum perang, ia meminta izin kepada Nabi untuk bermalam bersama istrinya. Nabi mengizinkan. Namun, pagi harinya, ketika seruan jihad berkumandang, Hanzhalah segera meninggalkan istrinya dan bergegas menuju medan perang, bahkan dalam keadaan belum mandi wajib setelah berhubungan suami istri.

Dalam pertempuran yang sengit itu, Hanzhalah menunjukkan keberanian yang luar biasa. Ia bertempur dengan gagah perkasa, защищая Nabi Muhammad SAW dan umat Islam. Sayangnya, ia gugur sebagai syahid di medan perang Uhud.

Hanzhalah dikenal karena keberaniannya yang menonjol dalam Perang Uhud. Meskipun baru saja menikah dan memiliki kesempatan untuk menikmati malam pengantinnya, ia tidak ragu untuk meninggalkan istrinya dan segera bergabung dengan pasukan Muslim ketika seruan jihad berkumandang.

Di medan perang, Hanzhalah bertempur dengan gagah berani. Ia tidak gentar menghadapi musuh-musuh Islam yang jumlahnya jauh lebih banyak. Ia защищая Nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya dengan segenap jiwa dan raga.

Keberanian dalam Menghadapi Abu Sufyan

Salah satu эпизод yang paling menonjol dari keberanian Hanzhalah adalah ketika ia berhadapan dengan Abu Sufyan, salah satu pemimpin Quraisy yang paling berpengaruh dan merupakan musuh utama umat Islam.

Dalam pertempuran yang sengit, Hanzhalah berhasil mendekati Abu Sufyan dan bahkan berhasil menjatuhkannya dari kuda. Pada saat itu, Hanzhalah memiliki kesempatan emas untuk membunuh Abu Sufyan dan mengakhiri peperangan.

Namun, sebelum Hanzhalah menghunus pedangnya, ia ditusuk oleh musuh dari arah belakang dan akhirnya gugur sebagai syahid. Meskipun demikian, keberanian Hanzhalah dalam menghadapi Abu Sufyan menunjukkan betapa besar keberanian dan pengorbanannya dalam membela agama Islam.

Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa ia melihat para malaikat memandikan jenazah Hanzhalah. Hal ini dikarenakan Hanzhalah pergi berperang dalam keadaan junub (belum mandi wajib). Sejak saat itu, ia dikenal dengan julukan "Ghasilul Malaikat" yang berarti "orang yang dimandikan oleh malaikat."

 

Keberanian yang Menginspirasi

Kisah keberanian Hanzhalah bin Abi Amir ini menjadi inspirasi bagi umat Islam sepanjang masa. Ia adalah contoh seorang Muslim yang tidak takut menghadapi смерть demi mempertahankan keyakinannya.

Keberanian Hanzhalah juga mengajarkan kepada kita tentang pentingnya mengutamakan kepentingan agama di atas kepentingan pribadi. Meskipun ia memiliki alasan yang kuat untuk tidak ikut berperang, yaitu karena ia baru saja menikah, ia tetap memilih untuk berjuang di jalan Allah SWT.

 

 


 

 Keteladanan dari Hanzhalah bin Abi Amir

Kisah hidup Hanzhalah bin Abi Amir memberikan banyak pelajaran berharga bagi umat Islam, antara lain:

1.   Keimanan yang Kuat: Hanzhalah menunjukkan keimanan yang kuat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Meskipun ayahnya adalah seorang penentang Islam, ia tidak ragu untuk memeluk agama yang benar.

2.   Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya: Hanzhalah selalu taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Ia segera berangkat ke medan perang Uhud meskipun dalam keadaan belum mandi wajib.

3.   Keberanian dan Pengorbanan: Hanzhalah menunjukkan keberanian dan pengorbanan yang tinggi dalam membela agama Islam. Ia tidak takut menghadapi musuh-musuh Islam demi menegakkan agama Allah.

4.   Prioritas yang Benar: Hanzhalah mengajarkan kepada kita tentang pentingnya memprioritaskan hal-hal yang benar dalam hidup. Ia lebih memilih untuk berjuang di jalan Allah daripada menunda-nunda kewajibannya.

Kisah Hanzhalah bin Abi Amir adalah contoh yang sangat baik bagi kita tentang bagaimana menjadi seorang Muslim yang beriman, taat, berani, dan rela berkorban demi agama Allah. Semoga kisah keberanian Hanzhalah bin Abi Amir ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua untuk selalu berani dalam membela kebenaran dan memperjuangkan agama Islam.

 


 




SUMAYYAH BINTI KHAYYAT

KETIKA IMAN LEBIH BERHARGA DARI NYAWA

 

Sumayyah binti Khayyat adalah salah satu tokoh wanita yang paling menginspirasi dalam sejarah Islam. Keteguhan imannya, kesabarannya dalam menghadapi cobaan, dan keberaniannya dalam mempertahankan keyakinan menjadikannya teladan bagi umat Islam sepanjang masa.

Kisah Hidup Sumayyah binti Khayyat

Sumayyah adalah seorang budak wanita yang hidup di Mekah pada masa sebelum kedatangan Islam. Ia menikah dengan Yasir, seorang pria dari Yaman, dan dikaruniai seorang putra bernama Ammar. Sumayyah dan keluarganya termasuk di antara orang-orang yang pertama kali memeluk Islam.

Keislaman Sumayyah dan keluarganya diketahui oleh kaum Quraisy yang berkuasa di Mekah. Mereka marah dan mulai menyiksa Sumayyah dan keluarganya dengan harapan mereka akan meninggalkan Islam. Sumayyah dan keluarganya disiksa dengan sangat kejam. Namun, di tengah siksaan yang berat itu, Sumayyah tetap teguh pada keimanannya. Ia tidak pernah menyerah atau mengeluh. Ia terus berdoa kepada Allah SWT dan memohon pertolongan-Nya.

Sumayyah binti Khayyat dan keluarganya, termasuk suaminya Yasir dan putranya Ammar, adalah orang-orang yang pertama kali memeluk agama Islam di Mekah. Mereka menghadapi siksaan yang berat dari kaum Quraisy yang berkuasa, yang menentang ajaran Islam.

Berikut adalah beberapa siksaan yang dialami oleh Sumayyah dan keluarganya:

1.   Dijemur di bawah terik matahari: Mereka dipaksa berbaring di atas pasir panas di bawah terik matahari yang menyengat tanpa pakaian yang melindungi mereka.

2.   Di cambuk: Mereka dicambuk dengan cambuk yang menyakitkan di sekujur tubuh mereka.

3.   Ditindih batu besar: Mereka ditindih dengan batu besar yang berat di atas dada mereka, sehingga sulit bernafas.

4.   Dipaksa kelaparan dan kehausan: Mereka tidak diberi makanan dan minuman selama berhari-hari, sehingga mereka sangat lapar dan haus.

5.   Siksaan verbal: Mereka diejek, dihina, dan dicaci maki oleh kaum Quraisy.

Tidak hanya itu, Sumayyah juga mengalami siksaan yang lebih kejam karena statusnya sebagai seorang wanita dan budak. Ia dipaksa untuk melakukan pekerjaan yang berat dan kotor, serta mengalami pelecehan verbal dan fisik.

Meskipun mengalami siksaan yang sangat berat, Sumayyah dan keluarganya tetap teguh pada keimanan mereka. Mereka tidak pernah menyerah atau mengeluh, dan terus berdoa kepada Allah SWT.

Kesabaran dan keteguhan Sumayyah dalam menghadapi siksaan ini menjadi inspirasi bagi umat Islam sepanjang masa. Ia adalah contoh wanita muslimah yang luar biasa yang rela mengorbankan nyawanya demi mempertahankan keimanan.

 

 

 



Kesyahidan Sumayyah binti Khayyat

Suatu hari, ketika Sumayyah dan keluarganya sedang disiksa, Rasulullah SAW lewat dan melihat penderitaan mereka. Rasulullah SAW bersabda, "Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga."

Mendengar perkataan Rasulullah SAW, Sumayyah semakin yakin akan kebenaran Islam. Ia tidak peduli lagi dengan siksaan yang ia alami. Ia hanya ingin mendapatkan ridha Allah SWT dan surga-Nya.

Akhirnya, Sumayyah meninggal dunia karena siksaan yang dialaminya. Ia menjadi wanita pertama yang mati syahid dalam Islam.

Keteladanan Sumayyah binti Khayyat

Sumayyah binti Khayyat adalah contoh wanita muslimah yang luar biasa. Ia memiliki beberapa sifat yang patut kita teladani, antara lain:

  • Keteguhan iman: Sumayyah tidak pernah goyah dalam keimanannya, meskipun menghadapi siksaan yang sangat berat.
  • Kesabaran: Sumayyah sangat sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian dari Allah SWT.
  • Keberanian: Sumayyah berani mempertahankan keyakinannya meskipun nyawa menjadi taruhannya.
  • Pengorbanan: Sumayyah rela mengorbankan nyawanya demi mempertahankan Islam.

Kisah hidup Sumayyah binti Khayyat mengajarkan kepada kita tentang pentingnya memiliki keimanan yang kuat, kesabaran dalam menghadapi cobaan, keberanian dalam mempertahankan kebenaran, dan kerelaan berkorban demi agama Allah SWT. Semoga kita semua dapat meneladani sifat-sifat mulia yang dimiliki oleh Sumayyah binti Khayyat.

 




 






BUYA HAMKA

ULAMA, PEJUANG DAN SASTRAWAN UNGGUL INDONESIA

 

Hamka, nama lengkapnya Haji Abdul Malik Karim Amrullah lahir 17 Februari 1908 di Sungai Batang Maninjau Sumatera Barat. Sejak masa kecil dalam diri Hamka telah tampak tanda-tanda akan menjadi orang besar. Hamka menempuh pendidikan formal Diniyah School, Sumatera Thawalib Padang Panjang dan menuntut ilmu secara autodidak (belajar mandiri).

Semenjak zaman pra-kemerdekaan nama Hamka telah dikenal sebagai mubaligh dan pengarang. Ia memimpin majalah Pedoman Masyarakat di Medan sampai Jepang masuk. Dalam masa revolusi kemerdekaan (1948 – 1949) Hamka ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan RI. Saat itu ia Ketua Front Pertahanan Nasional (FPN) Sumatera Barat dan Kepala Penerangan Markas Pertahanan Rakyat Daerah (MPRD).

Hamka hijrah ke Jakarta setelah penyerahan kedaulatan sekitar tahun 1950. Ia pernah menjadi pegawai tinggi Kementerian Agama di masa Menteri Agama K.H.A. Wahid Hasjim tahun 1950-an. Setelah Pemilu 1955 terpilih sebagai anggota Konstituante dari Fraksi Masyumi. Perjuangan di bidang pers dilanjutkannya dengan menerbitkan Panji Masyarakat.

Pada tahun 1955 Hamka diangkat sebagai Guru Besar Pusroh Islam Angkatan Darat. Guru Besar Pusroh Islam Angkatan Darat berjumlah 7 orang yaitu: Dr. Hamka, Dr. Kaharuddin Yunus, K.H. Syukri Ghozali, K.H. Anwar Musaddad, H.S.M. Nasaruddin Latif, K.H.A. Abdul Gafar Ismail, dan H. Abubakar Aceh.

Waktu Kementerian Agama mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) di Yogyakarta, Hamka diminta menjadi dosen luar biasa. Universitas Al-Azhar Mesir (1959) dan Universiti Kebangsaan Malaysia (1974) menganugerahkan Doctor Honoris Causa kepada Hamka. Pada tahun 1966 Dr. Hamka dikukuhkan sebagai Guru Besar di dalam bidang penggemblengan jiwa pada Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama.

Di ibukota Jakarta ia terus berdakwah, mengarang buku-buku agama serta mengisi siaran Kuliah Subuh RRI Jakarta dan Mimbar Agama Islam TVRI. Setelah Kongres Muhammadiyah di Ujung Pandang (1971) dan Padang (1975) sampai wafat Hamka menjadi Penasihat Pimpinan Pusat Muhammadiyah.




Ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) terbentuk tahun 1975, Hamka terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum MUI pertama. Mantan Menteri Agama Prof. Dr. H.A. Mukti Ali dalam buku Hamka Di Mata Hati Umat (1983) mengemukakan bahwa berdirinya MUI adalah jasa Hamka terhadap bangsa dan negara, tanpa Buya lembaga itu tak akan mampu berdiri. Hamka meletakkan jabatan Ketua Umum MUI dua bulan sebelum berpulang ke Rahmatullah. Peranan MUI yang memayungi seluruh ormas Islam dibutuhkan guna memperkuat rasa persatuan dan kerukunan. “Akhlak Islam yang sejati, mengumpulkan, bukan memecah, memperdekat, bukan menjauhkan, mengatakan mari kemari, bukan mengusir keluar dari sini." tulis Hamka dalam buku Prinsip dan Kebijaksanaan Da'wah Islam.

Hamka adalah ulama yang merakyat dan mendakwahkan Islam dengan kegembiraan. Setiap tutur kata dalam ceramah maupun tulisannya memikat perhatian pendengar dan pembaca. Masjid Agung Al-Azhar dan Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar (YPI Al-Azhar) merupakan saksi perjuangan dakwah Hamka sebagai Imam Besar sejak masjid tersebut selesai dibangun tahun 1957.

Dalam sebuah kajian tasauf Hamka mengingatkan bahwa menjaga kebersihan jiwa sama pentingnya dengan menjaga kebersihan badan, dan ibadah yang kita lakukan memiliki hubungan dengan jiwa. Setiap pribadi muslim harus memperkuat jiwanya agar sanggup hidup dengan penuh cita-cita.

Komunikasi dakwah Hamka mudah dicerna dan dipahami oleh semua lapisan masyarakat. Kesetiaan Hamka dalam memegang prinsip agama berdasarkan ayat-ayat Al-Quran dan Hadis dan sebagai pejuang bangsa yang mencintai tanah air, dibuktikan hingga akhir hayatnya. Dalam perjalanan hidupnya Hamka pernah mengalami ujian berat yaitu menjadi tahanan politik selama dua setengah tahun atas tuduhan fitnah yang direkayasa. Menurut Hamka, tidak ada orang yang tidak pernah berjumpa dengan kesulitan. Pada bab pendahuluan Tafsir Al-Azhar, diungkapkannya, Sungguh Allah Maha Kuasa! Zaman bergilir, ada yang naik dan ada yang jatuh. Dunia tiada kekal. Bagi diriku sendiri, di dalam hidup ini akupun datang dan akupun akan pergi. Kehidupan adalah pergiliran di antara senyum dan ratap. Air mata adalah asin, sebab itu dia adalah garam dari penghidupan.

Hamka wafat Jumat 24 Juli 1981/22 Ramadan 1404 H di Jakarta dalam usia 73 tahun. Sebelum dirawat di rumah sakit, Hamka masih sempat menulis untuk rubrik Dari Hati Ke Hati majalah Panji Masyarakat yang dipimpinnya selama 24 tahun yaitu artikel berjudul "17 Ramadhan".

Sebagai ulama dan pujangga Hamka meninggalkan lebih dari seratus legacy karya cipta intelektual yaitu buku-buku mengenai agama, sastra, filsafat, tasauf, politik, sejarah dan kebudayaan, seperti: Tasauf Modern, Falsafah Hidup, Lembaga Hidup, Lembaga Budi, Sejarah Umat Islam, Pribadi, Ayahku, Islam dan Adat Minangkabau, Muhammadiyah di Minangkabau, Pandangan Hidup Muslim, Said Jamaluddin Al-Afghany, Tafsir Al-Azhar (30 jilid), Hamka Berkisah Tentang Nabi dan Rasul, Empat Bulan Di Amerika, Tasauf Perkembangan dan Pemurniannya, Kedudukan Perempuan Dalam Islam, Kenang-Kenangan Hidup, Pelajaran Agama Islam, dan Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao.

Buku roman dan sastra, antara lain,

  1. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck,
  2. Di Bawah Lindungan Ka’bah,
  3. Merantau Ke Deli,
  4. Di Dalam Lembah Cita-Cita,
  5. Dijemput Mamaknya,
  6. Terusir,
  7. Tuan Direktur,
  8. Mandi Cahaya Di Tanah Suci,
  9. Di Lembah Sungai Nil,
  10. Keadilan Ilahi.


Disarikan dari berbagai sumber

 




IMAM HAMBALI 

TEGAS PADA BID'AH DAN TAWADHU' PADA ULAMA


Imam Hambali mempunyai nama lengkap Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. Beliau adalah Imam keempat dari fuqaha’ Islam. Beliau mempunyai sifat-sifat yang luhur dan tinggi yaitu sebagaimana dikatakan oleh orang-orang yang hidup semasa dengannya, juga orang yang mengenalnya. Beliau Imam bagi umat Islam seluruh dunia, juga Mufti bagi negeri Irak dan seorang yang alim tentang hadist-hadist Rasulullah Saw. Beliau seorang yang zuhud, penerang untuk dunia dan sebagai contoh dan teladan bagi orang-orang ahli sunnah, seorang yang sabar dikala menghadapi cobaan, seorang yang saleh dan zuhud.

Imam Ahmad ibn Hanbal lahir di Baghdad pada masa pemerintahan ‘Abbasiyyah dipegang oleh al-Mahdi, yaitu pada bulan Rabi’ al-Awwal tahun 164 H bertepatan dengan tahun 780 M. Imam Ahmad dilahirkan dalam keluarga yang terhormat, yang memiliki kebesaran jiwa, kekuatan kemauan, kesabaran dan ketegaran menghadapi penderitaan. Ayahnya meninggal sebelum ia dilahirkan, oleh sebab itu, Imam Ahmad ibn Hanbal mengalami keadaan yang sangat sederhana dan tidak tamak. Ayahnya bernama Muhammad bin al-Syaibani. Jadi sebutan Hanbal bukanlah nama ayahnya tetapi nama kakeknya dan Ibunya bernama Safiyyah binti Abdul Malik bin Hindun al-Syaibani dari golongan terkemuka.  



Pendidikan Imam Ahmad ibn Hanbal Sejak masa kecilnya Imam Ahmad yang fakir dan yatim itu dikenal sebagai orang yang sangat mencintai ilmu.Baghdad dengan segala kepesatannya dalam pembangunan termasuk kepesatan dalam perkembangan ilmu pengetahuan membuat kecintaan beliau terhadap ilmu bersambut dengan baik.Beliau mulai belajar ilmu-ilmu keislaman seperti al-Qur’an, al-Hadist, bahasa ‘Arab dan sebagainya kepada ulama-ulama yang ada di Baghdad ketika itu.8kefakiran Imam Ahmad membatasi keinginan dan cita-citanya untuk menuntut ilmu lebih jauh. Karena itu beliau tidak segan mengerjakan pekerjaan apapun untuk mendapatkan uang selama pekerjaan itu baik dan halal. Beliau pernah membuat dan menjual baju, menulis, memungut gandum sisa panen dan pengangkut barang.

 Pada masa pemerintahan Harun ar-Rasyid yaitu pada umur 16 tahun Imam Ahmad mulai mempelajari hadist secara khusus.Orang yang pertama kali didatangi untuk belajar hadist adalah Hasyim ibn Basyr ibn Khazin al-Wasiti. Tekadnya untuk menuntut ilmu dan menghimpun hadist mendorongnya untuk mengembara ke pusat-pusat ilmu keIslaman seperti Basrah, Hijaz, Yaman, Makkah dan Kufah. Bahkan beliau telah pergi ke Basrah dan Hijaz masing-masing sebanyak lima kali. Dan pengembaraan tersebut beliau bertemu dengan beberapa ulama besar.  

Perhatiannya terhadap hadist membuahkan kajian yang memuaskan dan memberi warna lain pada pandangan fiqhnya. Beliau lebih banyak mempergunakan hadist sebagai rujukan dalam memberi fatwa-fatwa fiqhnya. Karya beliau yang paling terkenal adalah al- Musnad. Didalamnya terhimpun 40.000 buah hadist yang merupakan seleksi dari 70.000 buah hadist.Ada yang berpendapat bahwa seluruh hadist dalam kitab tersebut adalah shahih. Sebagian lainnya mengatakan bahwa didalamnya terdapat beberapa hadist da’if (lemah). Dalam al-Musnad tersebut, dapat kita jumpai sejumlah besar fiqh sahabat, seperti fiqh ‘Umar, fiqh ‘Ali dan fiqh Ibnu Mas’ud. Umur beliau dihabiskan untuk menuntut ilmu terutama di dalam bidang hadist. Beliau tidak berhenti belajar walaupun telah menjadi Imam dan telah berumur lanjut. Sebagai ulama besar Imam Ahmad tidak luput dari berbagai cobaan.Cobaan terbesar yang dihadapinya adalah pada masa pemerintahan al-Ma’mun, al-Mu’tasim dan al-Wasiq. Pada masa itulah aliran Mu’tazilah mendapat sukses besar karena menjadi mazhab resmi Negara. Para tokoh Mu’tazilah menghembuskan isu yang tidak bertanggung jawab yaitu terjadinya peristiwa Khalq al-Qur’an (pemakhlukan terhadap al-Qur’an). Khalifah al-Ma’mun mempergunakan kekuasaannya untuk memaksa para ulama ahli fiqh dan ahli hadist agar mengakui bahwa al- Qur’an adalah makhluk.Peristiwa inilah yang kemudian dikenal dengan peristiwa mihnah. Banyak diantara mereka yang membenarkan paham al-Ma’mun lantaran ketakutan. 

Namun demikian Imam Ahmad dan beberapa ulama lain tetap menolak paham tersebut. Beliau berpendapat bahwa al-Qur’an bukanlah makhluk tetapi kalam Allah.Tidak sedikit ulama yang dianiya lantaran berseberangan dengan penguasa, tak terkecuali Imam Ahmad.Beliau lebih memilih dicambuk dan dipenjara dari pada harus mengakui bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Beberapa bulan kemudian al-Ma’mun mangkat namun sebelumnya ia sempat berwasiat kepada calon penggantinya yaitu al-Muta’sim agar melanjutkan kebijakannya. Dengan demikian Imam Ahmad dan beberapa kawannya dipenjara dan disiksa sampai pemerintahan al- Mu’tasim berakhir. Sepeninggal al-Muta’sim roda pemerintahan dipegang oleh putranya yaitu al-Wasiq. Pada masa ini pula kebijakan ayahnya tetap dipertahankan sehingga Imam Ahmad dan beberapa ulama lain yang sependirian dengan beliau tetap juga dipenjarakan dan disiksa. Sampai akhirnya al-Wasiq pun mangkat.

 Demikianlah sampai bertahun-tahun Imam Ahmad meringkuk dalam penjara dan menanggung sengsara lantaran dicambuk dengan cemeti sedang tangannya diikat. Sejak al-Ma’mun menjabat kepala Negara sampai zaman al-Wasiq. Setelah al-Wasiq mangkat, jabatan kepala Negara dipegang oleh al- Mutawakkil. Pada masa inilah segala bid’ah dalam urusan agama dihapuskan dan menghidupkan kembali sunnah Nabi Saw. Oleh karena itu dengan sendirinya masalah khalq al-Qur’an sudah tidak ada.Dengan demikian Imam Ahmad dan beberapa kawannya dibebaskan dari penjara. Sebaliknya para ulama yang menjadi sumber fitnah tentang masalah kemakhlukan al-Qur’an ditangkap serta dipenjara serta dijatuhi hukuman dera oleh al-Mutawakkil. Para tokoh Mu’tazilah mendapat tekanan hebat lantaran mendapat penyiksaan seperti yang pernah mereka lakukan terhadap para ulama yang menentang pendapatnya.

Demikianlah cobaan yang dialami oleh Imam Ahmad ibn Hanbal dalam mempertahankan pendirinnya untuk tidak mengakui kemakhlukan al-Qur’an. Setelah beliau dibebaskan dari penjara beberapa tahun kemudian beliau jatuh sakit. Sampai akhirnya beliau meninggal dunia pada usia 77 tahun yaitu pada hari Jum’at tanggal 12 Rabi’ al-Awwal 241 H. Beliau dimakamkan di Baghdad.


Disarikan dari berbagai sumber

 

SANG PALING DERMAWAN , ABDURRAHMAN BIN ‘AUF





Abdurrahman bin ‘Auf Al-Qurasyi Az-Zuhri adalah sahabat Rasulullah yang terkenal dengan kedermawanan dan keberaniannya. Ia lahir tahun 581 M, dan termasuk dalam golongan Assabiqunal Awwalun, yaitu orang-orang yang pertama kali masuk Islam, melalui Abu Bakar As-Siddiq di rumah Arqam bin Abi Arqan.     Abdurrahman bin Auf adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira oleh Nabi Muhammad SAW bahwa ia akan masuk Surga. Ia masuk Islam, pada tahun 614 M. Saat itu usianya masih cukup muda yakni umur 31 tahun. Usia yang  masih sangat produktif.  Kendati masih muda, sumbangsihnya pada perjuangan Islam dan dakwah Rasulullah cukup besar. Anak muda seperti Abdurrahman bin Auf, seperti sahabat-sahabat Nabi yang masih muda lainnya.

 

Abdurrahman bin ‘Auf memainkan peran kunci dalam menyebarkan ajaran Islam dan memperkuat komunitas Muslim di masa awal.    Ia termasuk salah satu dari mereka yang berperan pada peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Islam, seperti Perang Badar dan Perang Uhud. Pasalnya, ia dikenal sebagai pengusaha kaya dan dermawan. Ia menggunakan hartanya untuk membantu perjuangan Nabi dan kaum Muslimin.   Ketika Rasulullah SAW berdakwah di Makkah, Abdurrahman bin Auf adalah salah satu orang yang pertama kali menerima Islam. Ia bersedia meninggalkan harta benda dan keluarganya demi mengikuti Rasulullah. Salah satu kisah yang menunjukkan kedermawanan Abdurrahman bin Auf adalah ketika ia menawarkan seluruh harta bendanya kepada Rasulullah.   

 

Abdullah bin Auf pada masa Nabi SAW bersedekah dengan setengah hartanya, yaitu 4 ribu dinar. Tidak lama kemudian ia bersedekah dengan 40 ribu dinar, selanjutnya ia bersedekah lagi dengan 40 ribu dinar.  Jumlah ini sungguh besar di zamannya, yakni berkisar Rp4,5 milyar.    Tidak hanya itu, ia juga menyedekahkan 500 kuda untuk keperluan transportasi. Kemudian menambahkan 500 unta untuk berperang di jalan Allah. Kebanyakan harta yang dimiliki Abdurrahman bin Auf berasal dari perdagangan. Abdurrahman juga dijelaskan memerdekakan ribuan budak.     Abdurrahman meninggalkan banyak harta setelah meninggal dunia, termasuk emas yang dipotong-potong dengan kapak sehingga membuat tangan orang-orang menjadi lelah. Emas yang sangat banyak itu, ia bagikan ke masyarakat yang luas. Dalam riwayat dikatakan untuk membagi emas itu,  harus memotongnya dengan kapak agar bisa dibagi-bagikan kepada orang-orang.  Sumber harta Abdurrahman, seperti yang yang telah disebutkan, berasal dari peternakan yang dia miliki. Dia memiliki 1.000 unta, 100 kuda, dan 3.000 domba yang digembalakan di Baqi'. Ini menunjukkan bahwa dia memiliki sejumlah besar hewan ternak yang diurus dan dipelihara untuk mendapatkan keuntungan. Peternakan seperti ini dapat menjadi sumber pendapatan yang signifikan, terutama dalam budaya Arab dan lingkungannya di mana peternakan ternak adalah mata pencaharian utama atau sumber utama harta.

 

 


 Meskipun Abdurrahman bin Auf telah menjadi miliarder dan memiliki kekayaan yang luar biasa, dia tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang Muslim.  Abdurrahman adalah seorang filantropis yang dermawan. Setelah hijrah ke Madinah, dia terkenal karena bersedekah secara besar-besaran. Dengan murah hati ia berikan harta benda dan sumber daya kepada umat Islam yang membutuhkan.    Salah satu tindakan mulia Abdurrahman bin Auf adalah ketika Nabi Muhammad SAW mendirikan Baitul Mal (kas negara) di Madinah. Abdurrahman adalah salah satu sahabat yang memberikan kontribusi besar ke Baitul Mal ini. Dia memberikan separuh harta kekayaannya untuk membantu memenuhi kebutuhan umat Islam yang kurang beruntung. Tindakan ini menunjukkan dedikasinya untuk melayani masyarakat dan memastikan bahwa semua Muslim di Madinah mendapat perlindungan dan dukungan yang mereka perlukan.     Tindakan Abdurrahman bin Auf ini mencerminkan nilai-nilai solidaritas dan kepedulian sosial antar-umat Islam pada masa itu. Baitul Mal berfungsi sebagai instrumen distribusi kekayaan dan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan komunitas, dan kontribusi Abdurrahman bin Auf adalah salah satu contoh penting dari semangat kepedulian yang dijunjung tinggi dalam Islam. 

 

  

ABDURRAHMAN BIN AUF DAN BUAH KURMA






Suatu ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam berkata, Abdurrahman bin Auf akan masuk surga terakhir karena terlalu kaya, sehingga dihisabnya paling lama.

Mendengar hal tersebut Abdurrahman bin Auf pun berpikir keras, bagaimana caranya agar ia kembali menjadi miskin supaya dapat memasuki surga lebih awal. Suatu hari setelah perang tabuk, kurma yang ditinggalkan para sahabat di Madinah menjadi busuk sehingga harga jualnya jatuh.

Mendengar hal tersebut, Abdurrahman bin Auf langsung menjual semua harta yang ia punya untuk membeli semua kurma busuk milik para sahabat dengan harga standar kurma yang belum busuk.

Semua sahabat bersyukur karena kurma yang mereka khawatirkan tidak akan laku, tiba-tiba diborong semuanya oleh Abdurrahman bin Auf. Para sahabat gembira karena kurma mereka bisa dijual, begitupun Abdurrahman bin Auf yang teramat senang dan ia berharap akan jatuh miskin.

Namun, tiba-tiba ada seseorang yang datang dan mengaku berasal dari utusan Yaman.

Dia memberitakan bahwa di negerinya sedang terkena wabah penyakit menular, sehingga raja Yaman mengutus dirinya untuk mencari kurma busuk. Menurutnya, kurma busuk adalah salah satu obat yang bisa menyembuhkan dari penyakit menular itu.

Akhirnya utusan raja Yaman tersebut memborong semua kurma milik Abdurrahman bin Auf dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma biasa.



ABDURRAHMAN BIN AUF INGIN MISKIN




Suatu hari Abdurrahman bin Auf diberi makanan, padahal ia sedang berpuasa. Ia pun mengatakan, “Mush`ab bin Umair telah terbunuh, padahal dia lebih baik dariku. Akan tetapi ketika dia meninggal tidak ada kafan yang menutupinya selain burdah (apabila kain itu ditutupkan di kepala, kakinya menjadi terlihat dan apabila kakinya ditutup dengan kain itu, kepalanya menjadi terlihat).

Demikian pula dengan Hamzah, dia juga terbunuh, padahal dia lebih baik dariku. Ketika meninggal, tidak ada kafan yang menutupinya selain burdah. Aku khawatir balasan kebaikan-kebaikanku diberikan di dunia ini,” kemudian dia menangis lalu meninggalkan makanan tersebut.

Di sisi lain, Naufal bin al-Hudzali berkata, “Abdurrahman bin Auf teman bergaul kami. Beliau adalah sebaik-baik teman. Suatu hari dia pulang ke rumahnya dan mandi. Setelah itu dia keluar, ia datang kepada kami dengan membawa wadah makanan berisi roti dan daging, dan kemudian dia menangis.

Kami bertanya, “Wahai Abu Muhammad (panggilan Abdurrahman bin Auf), apa yang menyebabkan kamu menangis?”

Ia menjawab, “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal dunia dalam keadaan beliau dan keluarganya belum kenyang dengan roti syair. Aku tidak melihat kebaikan kita diakhirkan.”

Pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam Abdurrahman bin Auf pernah menyedekahkan separuh hartanya. Setelah itu ia bersedekah lagi sebanyak 40.000 dinar. Kebanyakan harta bendanya ia peroleh dari hasil perdagangan.

Abdurrahman bin Auf meninggal diusia 72 tahun dan dikubur di pemakaman Baqi, saat itu Utsman bin Affan ikut menyalatkannya. Begitu banyak hikmah yang bisa kita petik dari kisah Abdurrahman bin Auf yang berusaha ingin jatuh miskin karena takut kepada Rabbnya.


( Dirangkum dan disarikan dari berbagai sumber )