PERANG
BADAR
PERANG PERTAMA UMAT ISLAM MELAWAN KAUM QURAISY
Perang Badar adalah salah
satu peperangan penting dalam sejarah Islam yang melibatkan kaum Muslim Madinah
dan kaum Quraisy Makkah. Peperangan ini terjadi pada 17 Ramadan tahun ke-2
Hijriah, atau sekitar tahun 624 Masehi.
Perang Badar disebut demikian karena
lokasi pertempuran terjadi di sebuah lembah bernama Badar, yang terletak antara
Makkah dan Madinah. Lembah ini memiliki sumber mata air yang cukup penting bagi
masyarakat Arab pada masa itu.
ASAL-USUL NAMA BADAR
Nama
"Badar" sendiri berasal dari nama sebuah sumur yang terletak di
lembah tersebut. Sumur ini dikenal dengan nama "Badar" dan menjadi
tempat persinggahan bagi kafilah-kafilah dagang yang melintasi wilayah
tersebut.
MENGAPA PERANG BADAR TERJADI DI LEMBAH BADAR?
Nabi
Muhammad SAW memilih lembah Badar sebagai lokasi pertempuran karena beberapa
alasan:
- Lokasi Strategis:
Lembah Badar terletak di jalur perdagangan yang penting antara Makkah dan
Madinah. Dengan menguasai lembah ini, kaum Muslim dapat mengganggu jalur
perdagangan kaum Quraisy.
- Sumber Air:
Lembah Badar memiliki sumber mata air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan
pasukan Muslim yang berjumlah sekitar 313 orang.
- Kondisi Geografis:
Lembah Badar memiliki kondisi geografis yang menguntungkan bagi pasukan
Muslim yang jumlahnya lebih sedikit. Lembah ini dikelilingi oleh
bukit-bukit yang dapat dijadikan sebagai tempat perlindungan.
FAKTA PENTING TENTANG PERANG BADAR
·
Perang Badar adalah nama yang paling umum dan
dikenal untuk peristiwa bersejarah ini.
·
Perang Pertama menunjukkan bahwa ini adalah perang
pertama yang dihadapi oleh umat Islam setelah hijrah ke Madinah.
·
Umat Islam Melawan Kaum Quraisy menjelaskan
pihak-pihak yang terlibat dalam perang ini, yaitu umat Islam yang dipimpin oleh
Nabi Muhammad SAW melawan kaum Quraisy dari Makkah.
LATAR BELAKANG PERANG BADAR
Perang
Badar bermula dari keinginan kaum Muslim untuk mencegat kafilah dagang Quraisy
yang dipimpin oleh Abu Sufyan yang membawa harta benda dalam jumlah besar dari
Syam. Nabi Muhammad SAW mendengar kabar bahwa kafilah dagang Quraisy yang
membawa kekayaan dalam jumlah besar dari Syam menuju Makkah. Nabi Muhammad SAW
dan para sahabatnya berencana untuk mencegat kafilah dagang tersebut. Tujuannya
adalah untuk mengambil kembali sebagian harta mereka yang pernah dirampas oleh
kaum Quraisy di Makkah.
Namun,
rencana ini diketahui oleh Abu Sufyan, pemimpin kafilah dagang Quraisy. Abu
Sufyan kemudian mengirim utusan ke Makkah untuk meminta bantuan. Kaum Quraisy
Makkah yang merasa terancam dengan tindakan kaum Muslim, akhirnya mengirimkan
pasukan besar yang berjumlah sekitar 1000 orang untuk melindungi kafilah dagang
mereka.
JUMLAH PASUKAN YANG TERLIBAT
PERANG BADAR
Jumlah
pasukan Muslim yang ikut dalam Perang Badar hanya sekitar 313 orang, dengan
jumlah persenjataan yang sangat minim. Mereka hanya memiliki beberapa pedang,
tombak, dan beberapa ekor kuda. Sementara itu, pasukan Quraisy berjumlah
sekitar 1000 orang, dengan persenjataan yang lengkap dan jumlah kuda yang lebih
banyak.
PERISTIWA PENTING DI BALIK PERANG BADAR
Perang
Badar adalah salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam. Meskipun jumlah
pasukan Muslim jauh lebih sedikit daripada pasukan Quraisy, mereka berhasil
memenangkan pertempuran dengan bantuan Allah SWT. Kemenangan ini memberikan
dampak yang sangat besar bagi perkembangan agama Islam di kemudian hari.
KRONOLOGI
PERANG BADAR
Persiapan dan Pergerakan Pasukan
1. Pengintaian: Nabi Muhammad SAW mendengar kabar
tentang kafilah dagang Quraisy yang kaya raya kembali dari Syam (Suriah) menuju
Makkah, dipimpin oleh Abu Sufyan. Beliau mengirim beberapa sahabat untuk
mengintai kafilah tersebut.
2. Seruan
Jihad: Nabi Muhammad SAW menyerukan kepada
kaum Muslimin untuk bersiap menghadapi kemungkinan pencegatan kafilah atau
pertempuran jika diperlukan.
3. Pergerakan
Pasukan Muslim:
Sekitar 313 pasukan Muslim yang bersenjata minim bergerak menuju Badar, sebuah
lembah yang memiliki sumber air, dengan harapan dapat mencegat kafilah dagang
Quraisy.
4. Pergerakan
Kafilah Quraisy:
Abu Sufyan, pemimpin kafilah, mendapat informasi tentang pergerakan pasukan
Muslim. Ia mengubah rute kafilah dan mengirim utusan ke Makkah untuk meminta
bantuan.
5. Pergerakan
Pasukan Quraisy:
Kaum Quraisy di Makkah, yang merasa terancam oleh kekuatan Muslim yang semakin
besar, mengirimkan pasukan yang lebih besar dari 1000 orang dengan persenjataan
lengkap untuk melindungi kafilah mereka.
Pertemuan Di Badar
1. Posisi
Strategis: Nabi Muhammad
SAW memilih posisi yang strategis di lembah Badar, dekat dengan sumber air,
untuk keuntungan pasukan Muslim.
2. Formasi
Perang: Nabi Muhammad SAW mengatur formasi
pasukan Muslim dengan rapi.
3. Tantangan
dan Doa: Sebelum pertempuran dimulai, Nabi
Muhammad SAW berdoa kepada Allah SWT memohon pertolongan dan kemenangan.
Jalannya Pertempuran
1. Duel
Pembuka: Pertempuran dimulai dengan duel
antara beberapa tokoh dari kedua belah pihak. Hamzah bin Abdul Muthalib, paman
Nabi Muhammad SAW, menunjukkan keberanian dan kekuatan yang luar biasa dalam
duel tersebut.
2. Serangan
Umum: Setelah duel pembuka, kedua pasukan
terlibat dalam pertempuran sengit. Meskipun jumlah pasukan Muslim jauh lebih
sedikit, mereka berjuang dengan semangat tinggi dan keyakinan akan pertolongan
Allah SWT.
3. Pertolongan
Allah SWT: Dalam beberapa
riwayat, disebutkan bahwa Allah SWT mengirimkan bantuan berupa malaikat yang
ikut bertempur di pihak Muslim. Hal ini memberikan semangat dan kekuatan
tambahan bagi pasukan Muslim.
4. Kekalahan
Quraisy: Pasukan Quraisy, yang kalah dalam
jumlah dan semangat, mulai mengalami kekalahan. Banyak tokoh penting mereka
yang tewas dalam pertempuran ini, termasuk Abu Jahal, salah satu pemimpin utama
mereka.
Akhir Pertempuran
1. Kemenangan
Muslim: Setelah pertempuran berlangsung
sekitar dua jam, pasukan Muslim meraih kemenangan gemilang.
2. Tawanan
Perang: Banyak pasukan Quraisy yang
ditawan. Nabi Muhammad SAW memperlakukan tawanan perang dengan baik, ada yang
dibebaskan tanpa tebusan, ada yang dibebaskan dengan tebusan, dan ada pula yang
diajari membaca dan menulis.
3. Kerugian
Quraisy: Kaum Quraisy mengalami kerugian
besar dalam pertempuran ini. Selain kehilangan banyak pasukan dan pemimpin
mereka, mereka juga kehilangan prestise dan kekuatan mereka di wilayah Arab.
Hikmah dari Perang Badar
Perang
Badar adalah salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam. Kemenangan
Muslim dalam perang ini memberikan banyak pelajaran dan hikmah, antara lain:
- Keyakinan dan Pertolongan Allah: Kemenangan dalam Perang Badar membuktikan bahwa
keyakinan yang kuat kepada Allah SWT dan ketaatan kepada-Nya adalah kunci
kemenangan, meskipun dalam kondisi yang sulit.
- Keberanian dan Semangat Juang: Pasukan Muslim menunjukkan keberanian dan semangat
juang yang tinggi dalam menghadapi musuh yang lebih besar dan lebih kuat.
- Strategi dan Kepemimpinan: Nabi Muhammad SAW menunjukkan kepemimpinan yang
bijaksana dan strategi perang yang cerdik dalam mengatur pasukan dan
memilih posisi yang tepat.
- Pentingnya Persatuan: Kemenangan dalam Perang Badar juga merupakan hasil
dari persatuan dan kerjasama yang baik antara pasukan Muslim.
Jalannya Perang Badar
Meskipun
jumlah pasukan Muslim jauh lebih sedikit, mereka memiliki semangat juang yang
tinggi dan keyakinan yang kuat akan pertolongan Allah SWT. Nabi Muhammad SAW
sebagai pemimpin pasukan Muslim, mengatur strategi perang dengan sangat baik.
Beliau memilih tempat yang strategis untuk berperang, yaitu di lembah Badar, sebuah
lembah yang memiliki sumber air.
Ketika
kedua pasukan bertemu, pertempuran sengit pun terjadi. Meskipun kalah dalam
jumlah, pasukan Muslim dengan gagah berani melawan pasukan Quraisy. Dengan izin
Allah SWT, pasukan Muslim berhasil memenangkan pertempuran tersebut. Banyak
tokoh penting dari kaum Quraisy yang tewas dalam pertempuran ini, seperti Abu
Jahal, Utbah bin Rabiah, dan Syaibah bin Rabiah.
Hikmah dari Perang Badar
Perang
Badar adalah kemenangan besar bagi kaum Muslim. Kemenangan ini menunjukkan bahwa
kekuatan tidak hanya bergantung pada jumlah pasukan dan persenjataan, tetapi
juga pada keyakinan dan pertolongan Allah SWT. Perang Badar juga menjadi bukti
keberanian dan keteguhan hati kaum Muslim dalam membela agama Islam.
Setelah
perang berakhir, Nabi Muhammad SAW memperlakukan tawanan perang dengan baik.
Beliau membebaskan tawanan perang yang bersedia membayar tebusan, dan mengajari
mereka yang tidak bisa membayar tebusan untuk membaca dan menulis.
Perang Badar adalah tonggak penting dalam
sejarah perkembangan Islam. Kemenangan dalam perang ini memberikan dampak yang
besar bagi kaum Muslimin dan menjadi motivasi bagi mereka untuk terus berjuang
dan mempertahankan agama Islam.
HANZHALAH
BIN ABI AMIR
PENGANTIN
UHUD YANG DIMANDIKAN MALAIKAT
Hanzhalah bin Abi Amir adalah salah
satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal karena keberanian dan
pengorbanannya dalam membela agama Islam. Kisah hidupnya yang singkat namun
penuh makna memberikan banyak pelajaran berharga bagi umat Muslim.
Kelahiran dan Keislaman
Hanzhalah lahir di Madinah dari
keluarga terhormat. Ayahnya, Abu Amir, adalah seorang tokoh terkemuka di
kalangan suku Aus. Namun, ayahnya tidak masuk Islam dan bahkan menjadi
penentang Nabi Muhammad SAW. Meskipun demikian, Hanzhalah tidak mengikuti jejak
ayahnya. Ia memilih untuk memeluk Islam dan menjadi salah satu sahabat setia
Nabi.
Perang Uhud
Hanzhalah dikenal karena keberaniannya
dalam Perang Uhud. Pada saat itu, ia baru saja menikah. Malam sebelum perang,
ia meminta izin kepada Nabi untuk bermalam bersama istrinya. Nabi mengizinkan.
Namun, pagi harinya, ketika seruan jihad berkumandang, Hanzhalah segera
meninggalkan istrinya dan bergegas menuju medan perang, bahkan dalam keadaan
belum mandi wajib setelah berhubungan suami istri.
Dalam pertempuran yang sengit itu,
Hanzhalah menunjukkan keberanian yang luar biasa. Ia bertempur dengan gagah
perkasa, защищая Nabi Muhammad SAW
dan umat Islam. Sayangnya, ia gugur sebagai syahid di medan perang Uhud.
Hanzhalah dikenal karena keberaniannya yang
menonjol dalam Perang Uhud. Meskipun baru saja menikah dan memiliki kesempatan
untuk menikmati malam pengantinnya, ia tidak ragu untuk meninggalkan istrinya
dan segera bergabung dengan pasukan Muslim ketika seruan jihad berkumandang.
Di medan perang, Hanzhalah bertempur
dengan gagah berani. Ia tidak gentar menghadapi musuh-musuh Islam yang
jumlahnya jauh lebih banyak. Ia защищая Nabi Muhammad SAW
dan sahabat-sahabatnya dengan segenap jiwa dan raga.
Keberanian dalam Menghadapi Abu Sufyan
Salah satu эпизод
yang paling menonjol dari keberanian Hanzhalah adalah ketika ia berhadapan
dengan Abu Sufyan, salah satu pemimpin Quraisy yang paling berpengaruh dan
merupakan musuh utama umat Islam.
Dalam pertempuran yang sengit,
Hanzhalah berhasil mendekati Abu Sufyan dan bahkan berhasil menjatuhkannya dari
kuda. Pada saat itu, Hanzhalah memiliki kesempatan emas untuk membunuh Abu
Sufyan dan mengakhiri peperangan.
Namun, sebelum Hanzhalah menghunus
pedangnya, ia ditusuk oleh musuh dari arah belakang dan akhirnya gugur sebagai
syahid. Meskipun demikian, keberanian Hanzhalah dalam menghadapi Abu Sufyan
menunjukkan betapa besar keberanian dan pengorbanannya dalam membela agama
Islam.
Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa ia
melihat para malaikat memandikan jenazah Hanzhalah. Hal ini dikarenakan
Hanzhalah pergi berperang dalam keadaan junub (belum mandi wajib). Sejak saat
itu, ia dikenal dengan julukan "Ghasilul Malaikat" yang berarti
"orang yang dimandikan oleh malaikat."
Keberanian yang Menginspirasi
Kisah keberanian Hanzhalah bin Abi Amir
ini menjadi inspirasi bagi umat Islam sepanjang masa. Ia adalah contoh seorang
Muslim yang tidak takut menghadapi смерть demi mempertahankan
keyakinannya.
Keberanian Hanzhalah juga mengajarkan
kepada kita tentang pentingnya mengutamakan kepentingan agama di atas kepentingan
pribadi. Meskipun ia memiliki alasan yang kuat untuk tidak ikut berperang,
yaitu karena ia baru saja menikah, ia tetap memilih untuk berjuang di jalan
Allah SWT.
Kisah hidup Hanzhalah bin Abi Amir
memberikan banyak pelajaran berharga bagi umat Islam, antara lain:
1. Keimanan yang Kuat: Hanzhalah
menunjukkan keimanan yang kuat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Meskipun ayahnya
adalah seorang penentang Islam, ia tidak ragu untuk memeluk agama yang benar.
2. Ketaatan kepada Allah
dan Rasul-Nya:
Hanzhalah selalu taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Ia segera berangkat
ke medan perang Uhud meskipun dalam keadaan belum mandi wajib.
3. Keberanian dan
Pengorbanan:
Hanzhalah menunjukkan keberanian dan pengorbanan yang tinggi dalam membela
agama Islam. Ia tidak takut menghadapi musuh-musuh Islam demi menegakkan agama
Allah.
4. Prioritas yang Benar: Hanzhalah mengajarkan
kepada kita tentang pentingnya memprioritaskan hal-hal yang benar dalam hidup.
Ia lebih memilih untuk berjuang di jalan Allah daripada menunda-nunda
kewajibannya.
Kisah Hanzhalah bin Abi Amir adalah
contoh yang sangat baik bagi kita tentang bagaimana menjadi seorang Muslim yang
beriman, taat, berani, dan rela berkorban demi agama Allah. Semoga kisah
keberanian Hanzhalah bin Abi Amir ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua
untuk selalu berani dalam membela kebenaran dan memperjuangkan agama Islam.
SUMAYYAH BINTI KHAYYAT
KETIKA IMAN LEBIH BERHARGA DARI NYAWA
Sumayyah
binti Khayyat adalah salah satu tokoh wanita yang paling menginspirasi dalam
sejarah Islam. Keteguhan imannya, kesabarannya dalam menghadapi cobaan, dan
keberaniannya dalam mempertahankan keyakinan menjadikannya teladan bagi umat
Islam sepanjang masa.
Kisah
Hidup Sumayyah binti Khayyat
Sumayyah
adalah seorang budak wanita yang hidup di Mekah pada masa sebelum kedatangan
Islam. Ia menikah dengan Yasir, seorang pria dari Yaman, dan dikaruniai seorang
putra bernama Ammar. Sumayyah dan keluarganya termasuk di antara orang-orang
yang pertama kali memeluk Islam.
Keislaman
Sumayyah dan keluarganya diketahui oleh kaum Quraisy yang berkuasa di Mekah.
Mereka marah dan mulai menyiksa Sumayyah dan keluarganya dengan harapan mereka
akan meninggalkan Islam. Sumayyah dan keluarganya disiksa dengan sangat kejam. Namun,
di tengah siksaan yang berat itu, Sumayyah tetap teguh pada keimanannya. Ia
tidak pernah menyerah atau mengeluh. Ia terus berdoa kepada Allah SWT dan
memohon pertolongan-Nya.
Sumayyah
binti Khayyat dan keluarganya, termasuk suaminya Yasir dan putranya Ammar,
adalah orang-orang yang pertama kali memeluk agama Islam di Mekah. Mereka
menghadapi siksaan yang berat dari kaum Quraisy yang berkuasa, yang menentang
ajaran Islam.
Berikut
adalah beberapa siksaan yang dialami oleh Sumayyah dan keluarganya:
1.
Dijemur di
bawah terik matahari: Mereka dipaksa berbaring di atas
pasir panas di bawah terik matahari yang menyengat tanpa pakaian yang
melindungi mereka.
2.
Di cambuk: Mereka dicambuk dengan cambuk yang menyakitkan di sekujur
tubuh mereka.
3.
Ditindih batu
besar: Mereka ditindih dengan batu besar
yang berat di atas dada mereka, sehingga sulit bernafas.
4.
Dipaksa
kelaparan dan kehausan: Mereka tidak
diberi makanan dan minuman selama berhari-hari, sehingga mereka sangat lapar
dan haus.
5.
Siksaan verbal: Mereka diejek, dihina, dan dicaci maki oleh kaum Quraisy.
Tidak
hanya itu, Sumayyah juga mengalami siksaan yang lebih kejam karena statusnya
sebagai seorang wanita dan budak. Ia dipaksa untuk melakukan pekerjaan yang
berat dan kotor, serta mengalami pelecehan verbal dan fisik.
Meskipun
mengalami siksaan yang sangat berat, Sumayyah dan keluarganya tetap teguh pada
keimanan mereka. Mereka tidak pernah menyerah atau mengeluh, dan terus berdoa
kepada Allah SWT.
Kesabaran
dan keteguhan Sumayyah dalam menghadapi siksaan ini menjadi inspirasi bagi umat
Islam sepanjang masa. Ia adalah contoh wanita muslimah yang luar biasa yang
rela mengorbankan nyawanya demi mempertahankan keimanan.
Kesyahidan Sumayyah binti Khayyat
Suatu
hari, ketika Sumayyah dan keluarganya sedang disiksa, Rasulullah SAW lewat dan
melihat penderitaan mereka. Rasulullah SAW bersabda, "Bersabarlah wahai
keluarga Yasir, sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga."
Mendengar
perkataan Rasulullah SAW, Sumayyah semakin yakin akan kebenaran Islam. Ia tidak
peduli lagi dengan siksaan yang ia alami. Ia hanya ingin mendapatkan ridha
Allah SWT dan surga-Nya.
Akhirnya,
Sumayyah meninggal dunia karena siksaan yang dialaminya. Ia menjadi wanita
pertama yang mati syahid dalam Islam.
Keteladanan
Sumayyah binti Khayyat
Sumayyah
binti Khayyat adalah contoh wanita muslimah yang luar biasa. Ia memiliki
beberapa sifat yang patut kita teladani, antara lain:
- Keteguhan iman: Sumayyah tidak pernah goyah dalam keimanannya, meskipun
menghadapi siksaan yang sangat berat.
- Kesabaran: Sumayyah sangat sabar dalam menghadapi cobaan dan
ujian dari Allah SWT.
- Keberanian: Sumayyah berani mempertahankan keyakinannya meskipun
nyawa menjadi taruhannya.
- Pengorbanan: Sumayyah rela mengorbankan nyawanya demi
mempertahankan Islam.
Kisah
hidup Sumayyah binti Khayyat mengajarkan kepada kita tentang pentingnya
memiliki keimanan yang kuat, kesabaran dalam menghadapi cobaan, keberanian
dalam mempertahankan kebenaran, dan kerelaan berkorban demi agama Allah SWT.
Semoga kita semua dapat meneladani sifat-sifat mulia yang dimiliki oleh
Sumayyah binti Khayyat.
BUYA HAMKA
ULAMA, PEJUANG DAN SASTRAWAN
UNGGUL INDONESIA
Hamka, nama lengkapnya Haji
Abdul Malik Karim Amrullah lahir 17 Februari 1908 di Sungai Batang Maninjau
Sumatera Barat. Sejak masa kecil dalam diri Hamka telah tampak tanda-tanda akan
menjadi orang besar. Hamka menempuh pendidikan formal Diniyah School, Sumatera
Thawalib Padang Panjang dan menuntut ilmu secara autodidak (belajar mandiri).
Semenjak zaman pra-kemerdekaan nama Hamka telah dikenal sebagai
mubaligh dan pengarang. Ia memimpin majalah Pedoman Masyarakat di Medan sampai
Jepang masuk. Dalam masa revolusi kemerdekaan (1948 – 1949) Hamka ikut berjuang
mempertahankan kemerdekaan RI. Saat itu ia Ketua Front Pertahanan Nasional
(FPN) Sumatera Barat dan Kepala Penerangan Markas Pertahanan Rakyat Daerah
(MPRD).
Hamka hijrah ke Jakarta setelah penyerahan kedaulatan sekitar
tahun 1950. Ia pernah menjadi pegawai tinggi Kementerian Agama di masa Menteri
Agama K.H.A. Wahid Hasjim tahun 1950-an. Setelah Pemilu 1955 terpilih sebagai
anggota Konstituante dari Fraksi Masyumi. Perjuangan di bidang pers
dilanjutkannya dengan menerbitkan Panji Masyarakat.
Pada tahun 1955 Hamka diangkat sebagai Guru Besar Pusroh Islam
Angkatan Darat. Guru Besar Pusroh Islam Angkatan Darat berjumlah 7 orang yaitu:
Dr. Hamka, Dr. Kaharuddin Yunus, K.H. Syukri Ghozali, K.H. Anwar Musaddad,
H.S.M. Nasaruddin Latif, K.H.A. Abdul Gafar Ismail, dan H. Abubakar Aceh.
Waktu Kementerian Agama mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam
Negeri (PTAIN) di Yogyakarta, Hamka diminta menjadi dosen luar biasa.
Universitas Al-Azhar Mesir (1959) dan Universiti Kebangsaan Malaysia (1974)
menganugerahkan Doctor Honoris Causa kepada Hamka. Pada tahun 1966 Dr. Hamka
dikukuhkan sebagai Guru Besar di dalam bidang penggemblengan jiwa pada
Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama.
Di ibukota Jakarta ia terus berdakwah, mengarang buku-buku agama
serta mengisi siaran Kuliah Subuh RRI Jakarta dan Mimbar Agama Islam TVRI.
Setelah Kongres Muhammadiyah di Ujung Pandang (1971) dan Padang (1975) sampai
wafat Hamka menjadi Penasihat Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) terbentuk tahun 1975, Hamka terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum MUI pertama. Mantan Menteri Agama Prof. Dr. H.A. Mukti Ali dalam buku Hamka Di Mata Hati Umat (1983) mengemukakan bahwa berdirinya MUI adalah jasa Hamka terhadap bangsa dan negara, tanpa Buya lembaga itu tak akan mampu berdiri. Hamka meletakkan jabatan Ketua Umum MUI dua bulan sebelum berpulang ke Rahmatullah. Peranan MUI yang memayungi seluruh ormas Islam dibutuhkan guna memperkuat rasa persatuan dan kerukunan. “Akhlak Islam yang sejati, mengumpulkan, bukan memecah, memperdekat, bukan menjauhkan, mengatakan mari kemari, bukan mengusir keluar dari sini." tulis Hamka dalam buku Prinsip dan Kebijaksanaan Da'wah Islam.
Hamka adalah ulama yang merakyat dan mendakwahkan Islam dengan
kegembiraan. Setiap tutur kata dalam ceramah maupun tulisannya memikat
perhatian pendengar dan pembaca. Masjid Agung Al-Azhar dan Yayasan Pesantren
Islam Al-Azhar (YPI Al-Azhar) merupakan saksi perjuangan dakwah Hamka sebagai
Imam Besar sejak masjid tersebut selesai dibangun tahun 1957.
Dalam sebuah kajian tasauf Hamka mengingatkan bahwa menjaga
kebersihan jiwa sama pentingnya dengan menjaga kebersihan badan, dan ibadah
yang kita lakukan memiliki hubungan dengan jiwa. Setiap pribadi muslim harus
memperkuat jiwanya agar sanggup hidup dengan penuh cita-cita.
Komunikasi dakwah Hamka mudah dicerna dan dipahami oleh semua
lapisan masyarakat. Kesetiaan Hamka dalam memegang prinsip agama berdasarkan
ayat-ayat Al-Quran dan Hadis dan sebagai pejuang bangsa yang mencintai tanah
air, dibuktikan hingga akhir hayatnya. Dalam perjalanan hidupnya Hamka pernah
mengalami ujian berat yaitu menjadi tahanan politik selama dua setengah tahun
atas tuduhan fitnah yang direkayasa. Menurut Hamka, tidak ada orang yang tidak
pernah berjumpa dengan kesulitan. Pada bab pendahuluan Tafsir Al-Azhar,
diungkapkannya, Sungguh Allah Maha Kuasa! Zaman bergilir, ada yang naik dan ada
yang jatuh. Dunia tiada kekal. Bagi diriku sendiri, di dalam hidup ini akupun
datang dan akupun akan pergi. Kehidupan adalah pergiliran di antara senyum dan
ratap. Air mata adalah asin, sebab itu dia adalah garam dari penghidupan.
Hamka wafat Jumat 24 Juli 1981/22 Ramadan 1404 H di Jakarta
dalam usia 73 tahun. Sebelum dirawat di rumah sakit, Hamka masih sempat menulis
untuk rubrik Dari Hati Ke Hati majalah Panji Masyarakat yang dipimpinnya selama
24 tahun yaitu artikel berjudul "17 Ramadhan".
Sebagai ulama dan pujangga Hamka meninggalkan lebih dari seratus
legacy karya cipta intelektual yaitu buku-buku mengenai agama, sastra,
filsafat, tasauf, politik, sejarah dan kebudayaan, seperti: Tasauf Modern,
Falsafah Hidup, Lembaga Hidup, Lembaga Budi, Sejarah Umat Islam, Pribadi,
Ayahku, Islam dan Adat Minangkabau, Muhammadiyah di Minangkabau, Pandangan
Hidup Muslim, Said Jamaluddin Al-Afghany, Tafsir Al-Azhar (30 jilid), Hamka
Berkisah Tentang Nabi dan Rasul, Empat Bulan Di Amerika, Tasauf Perkembangan
dan Pemurniannya, Kedudukan Perempuan Dalam Islam, Kenang-Kenangan Hidup,
Pelajaran Agama Islam, dan Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao.
Buku roman dan sastra, antara lain,
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck,
- Di Bawah Lindungan Ka’bah,
- Merantau Ke Deli,
- Di Dalam Lembah Cita-Cita,
- Dijemput Mamaknya,
- Terusir,
- Tuan Direktur,
- Mandi Cahaya Di Tanah Suci,
- Di Lembah Sungai Nil,
- Keadilan Ilahi.
Disarikan dari berbagai sumber
IMAM HAMBALI
TEGAS PADA BID'AH DAN TAWADHU' PADA ULAMA
Imam Hambali mempunyai nama
lengkap Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. Beliau adalah Imam keempat dari fuqaha’
Islam. Beliau mempunyai sifat-sifat yang luhur dan tinggi yaitu sebagaimana
dikatakan oleh orang-orang yang hidup semasa dengannya, juga orang yang
mengenalnya. Beliau Imam bagi umat Islam seluruh dunia, juga Mufti bagi negeri
Irak dan seorang yang alim tentang hadist-hadist Rasulullah Saw. Beliau seorang
yang zuhud, penerang untuk dunia dan sebagai contoh dan teladan bagi
orang-orang ahli sunnah, seorang yang sabar dikala menghadapi cobaan, seorang
yang saleh dan zuhud.
Imam Ahmad ibn Hanbal lahir
di Baghdad pada masa pemerintahan ‘Abbasiyyah dipegang oleh al-Mahdi, yaitu
pada bulan Rabi’ al-Awwal tahun 164 H bertepatan dengan tahun 780 M. Imam Ahmad
dilahirkan dalam keluarga yang terhormat, yang memiliki kebesaran jiwa,
kekuatan kemauan, kesabaran dan ketegaran menghadapi penderitaan. Ayahnya meninggal
sebelum ia dilahirkan, oleh sebab itu, Imam Ahmad ibn Hanbal mengalami keadaan
yang sangat sederhana dan tidak tamak. Ayahnya bernama Muhammad bin
al-Syaibani. Jadi sebutan Hanbal bukanlah nama ayahnya tetapi nama kakeknya dan
Ibunya bernama Safiyyah binti Abdul Malik bin Hindun al-Syaibani dari golongan
terkemuka.
Pendidikan Imam Ahmad ibn Hanbal Sejak masa kecilnya Imam Ahmad yang fakir dan yatim itu dikenal sebagai orang yang sangat mencintai ilmu.Baghdad dengan segala kepesatannya dalam pembangunan termasuk kepesatan dalam perkembangan ilmu pengetahuan membuat kecintaan beliau terhadap ilmu bersambut dengan baik.Beliau mulai belajar ilmu-ilmu keislaman seperti al-Qur’an, al-Hadist, bahasa ‘Arab dan sebagainya kepada ulama-ulama yang ada di Baghdad ketika itu.8kefakiran Imam Ahmad membatasi keinginan dan cita-citanya untuk menuntut ilmu lebih jauh. Karena itu beliau tidak segan mengerjakan pekerjaan apapun untuk mendapatkan uang selama pekerjaan itu baik dan halal. Beliau pernah membuat dan menjual baju, menulis, memungut gandum sisa panen dan pengangkut barang.
Pada masa pemerintahan Harun ar-Rasyid yaitu
pada umur 16 tahun Imam Ahmad mulai mempelajari hadist secara khusus.Orang yang
pertama kali didatangi untuk belajar hadist adalah Hasyim ibn Basyr ibn Khazin
al-Wasiti. Tekadnya untuk menuntut ilmu dan menghimpun hadist mendorongnya
untuk mengembara ke pusat-pusat ilmu keIslaman seperti Basrah, Hijaz, Yaman,
Makkah dan Kufah. Bahkan beliau telah pergi ke Basrah dan Hijaz masing-masing
sebanyak lima kali. Dan pengembaraan tersebut beliau bertemu dengan beberapa
ulama besar.
Perhatiannya terhadap hadist membuahkan kajian yang memuaskan dan memberi warna lain pada pandangan fiqhnya. Beliau lebih banyak mempergunakan hadist sebagai rujukan dalam memberi fatwa-fatwa fiqhnya. Karya beliau yang paling terkenal adalah al- Musnad. Didalamnya terhimpun 40.000 buah hadist yang merupakan seleksi dari 70.000 buah hadist.Ada yang berpendapat bahwa seluruh hadist dalam kitab tersebut adalah shahih. Sebagian lainnya mengatakan bahwa didalamnya terdapat beberapa hadist da’if (lemah). Dalam al-Musnad tersebut, dapat kita jumpai sejumlah besar fiqh sahabat, seperti fiqh ‘Umar, fiqh ‘Ali dan fiqh Ibnu Mas’ud. Umur beliau dihabiskan untuk menuntut ilmu terutama di dalam bidang hadist. Beliau tidak berhenti belajar walaupun telah menjadi Imam dan telah berumur lanjut. Sebagai ulama besar Imam Ahmad tidak luput dari berbagai cobaan.Cobaan terbesar yang dihadapinya adalah pada masa pemerintahan al-Ma’mun, al-Mu’tasim dan al-Wasiq. Pada masa itulah aliran Mu’tazilah mendapat sukses besar karena menjadi mazhab resmi Negara. Para tokoh Mu’tazilah menghembuskan isu yang tidak bertanggung jawab yaitu terjadinya peristiwa Khalq al-Qur’an (pemakhlukan terhadap al-Qur’an). Khalifah al-Ma’mun mempergunakan kekuasaannya untuk memaksa para ulama ahli fiqh dan ahli hadist agar mengakui bahwa al- Qur’an adalah makhluk.Peristiwa inilah yang kemudian dikenal dengan peristiwa mihnah. Banyak diantara mereka yang membenarkan paham al-Ma’mun lantaran ketakutan.
Namun demikian Imam Ahmad dan beberapa ulama lain
tetap menolak paham tersebut. Beliau berpendapat bahwa al-Qur’an bukanlah
makhluk tetapi kalam Allah.Tidak sedikit ulama yang dianiya lantaran berseberangan
dengan penguasa, tak terkecuali Imam Ahmad.Beliau lebih memilih dicambuk dan
dipenjara dari pada harus mengakui bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Beberapa
bulan kemudian al-Ma’mun mangkat namun sebelumnya ia sempat berwasiat kepada
calon penggantinya yaitu al-Muta’sim agar melanjutkan kebijakannya. Dengan
demikian Imam Ahmad dan beberapa kawannya dipenjara dan disiksa sampai
pemerintahan al- Mu’tasim berakhir. Sepeninggal al-Muta’sim roda pemerintahan
dipegang oleh putranya yaitu al-Wasiq. Pada masa ini pula kebijakan ayahnya
tetap dipertahankan sehingga Imam Ahmad dan beberapa ulama lain yang
sependirian dengan beliau tetap juga dipenjarakan dan disiksa. Sampai akhirnya
al-Wasiq pun mangkat.
Demikianlah sampai bertahun-tahun Imam Ahmad
meringkuk dalam penjara dan menanggung sengsara lantaran dicambuk dengan cemeti
sedang tangannya diikat. Sejak al-Ma’mun menjabat kepala Negara sampai zaman
al-Wasiq. Setelah al-Wasiq mangkat, jabatan kepala Negara dipegang oleh al-
Mutawakkil. Pada masa inilah segala bid’ah dalam urusan agama dihapuskan dan
menghidupkan kembali sunnah Nabi Saw. Oleh karena itu dengan sendirinya masalah
khalq al-Qur’an sudah tidak ada.Dengan demikian Imam Ahmad dan beberapa
kawannya dibebaskan dari penjara. Sebaliknya para ulama yang menjadi sumber
fitnah tentang masalah kemakhlukan al-Qur’an ditangkap serta dipenjara serta
dijatuhi hukuman dera oleh al-Mutawakkil. Para tokoh Mu’tazilah mendapat
tekanan hebat lantaran mendapat penyiksaan seperti yang pernah mereka lakukan
terhadap para ulama yang menentang pendapatnya.
Demikianlah cobaan yang
dialami oleh Imam Ahmad ibn Hanbal dalam mempertahankan pendirinnya untuk tidak
mengakui kemakhlukan al-Qur’an. Setelah beliau dibebaskan dari penjara beberapa
tahun kemudian beliau jatuh sakit. Sampai akhirnya beliau meninggal dunia pada
usia 77 tahun yaitu pada hari Jum’at tanggal 12 Rabi’ al-Awwal 241 H. Beliau
dimakamkan di Baghdad.
Disarikan dari berbagai sumber
SANG PALING
DERMAWAN , ABDURRAHMAN BIN ‘AUF
Abdurrahman bin ‘Auf Al-Qurasyi Az-Zuhri adalah sahabat Rasulullah yang terkenal dengan kedermawanan dan keberaniannya. Ia lahir tahun 581 M, dan termasuk dalam golongan Assabiqunal Awwalun, yaitu orang-orang yang pertama kali masuk Islam, melalui Abu Bakar As-Siddiq di rumah Arqam bin Abi Arqan. Abdurrahman bin Auf adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira oleh Nabi Muhammad SAW bahwa ia akan masuk Surga. Ia masuk Islam, pada tahun 614 M. Saat itu usianya masih cukup muda yakni umur 31 tahun. Usia yang masih sangat produktif. Kendati masih muda, sumbangsihnya pada perjuangan Islam dan dakwah Rasulullah cukup besar. Anak muda seperti Abdurrahman bin Auf, seperti sahabat-sahabat Nabi yang masih muda lainnya.
Abdurrahman
bin ‘Auf memainkan peran kunci dalam menyebarkan ajaran Islam dan memperkuat
komunitas Muslim di masa awal. Ia termasuk salah satu dari mereka
yang berperan pada peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Islam, seperti
Perang Badar dan Perang Uhud. Pasalnya, ia dikenal sebagai pengusaha kaya dan
dermawan. Ia menggunakan hartanya untuk membantu perjuangan Nabi dan kaum
Muslimin. Ketika Rasulullah SAW berdakwah di Makkah, Abdurrahman
bin Auf adalah salah satu orang yang pertama kali menerima Islam. Ia bersedia
meninggalkan harta benda dan keluarganya demi mengikuti Rasulullah. Salah satu
kisah yang menunjukkan kedermawanan Abdurrahman bin Auf adalah ketika ia
menawarkan seluruh harta bendanya kepada Rasulullah.
Abdullah
bin Auf pada masa Nabi SAW bersedekah dengan setengah hartanya, yaitu 4 ribu
dinar. Tidak lama kemudian ia bersedekah dengan 40 ribu dinar, selanjutnya ia
bersedekah lagi dengan 40 ribu dinar. Jumlah ini sungguh besar di
zamannya, yakni berkisar Rp4,5 milyar. Tidak hanya itu, ia juga
menyedekahkan 500 kuda untuk keperluan transportasi. Kemudian menambahkan 500
unta untuk berperang di jalan Allah. Kebanyakan harta yang dimiliki Abdurrahman
bin Auf berasal dari perdagangan. Abdurrahman juga dijelaskan memerdekakan
ribuan budak. Abdurrahman meninggalkan banyak harta setelah
meninggal dunia, termasuk emas yang dipotong-potong dengan kapak sehingga
membuat tangan orang-orang menjadi lelah. Emas yang sangat banyak itu, ia
bagikan ke masyarakat yang luas. Dalam riwayat dikatakan untuk membagi emas
itu, harus memotongnya dengan kapak agar bisa dibagi-bagikan kepada
orang-orang. Sumber harta Abdurrahman, seperti yang yang telah
disebutkan, berasal dari peternakan yang dia miliki. Dia memiliki 1.000 unta,
100 kuda, dan 3.000 domba yang digembalakan di Baqi'. Ini menunjukkan bahwa dia
memiliki sejumlah besar hewan ternak yang diurus dan dipelihara untuk
mendapatkan keuntungan. Peternakan seperti ini dapat menjadi sumber pendapatan
yang signifikan, terutama dalam budaya Arab dan lingkungannya di mana
peternakan ternak adalah mata pencaharian utama atau sumber utama harta.
ABDURRAHMAN BIN AUF DAN BUAH KURMA
Suatu ketika Rasulullah
Shallallahu’alaihi wasallam berkata, Abdurrahman bin Auf akan masuk surga
terakhir karena terlalu kaya, sehingga dihisabnya paling lama.
Mendengar hal
tersebut Abdurrahman bin Auf pun berpikir keras, bagaimana caranya agar ia
kembali menjadi miskin supaya dapat memasuki surga lebih awal. Suatu hari
setelah perang tabuk, kurma yang ditinggalkan para sahabat di Madinah menjadi
busuk sehingga harga jualnya jatuh.
Mendengar hal
tersebut, Abdurrahman bin Auf langsung menjual semua harta yang ia punya untuk
membeli semua kurma busuk milik para sahabat dengan harga standar kurma yang
belum busuk.
Semua sahabat
bersyukur karena kurma yang mereka khawatirkan tidak akan laku, tiba-tiba
diborong semuanya oleh Abdurrahman bin Auf. Para sahabat gembira karena kurma
mereka bisa dijual, begitupun Abdurrahman bin Auf yang teramat senang dan ia
berharap akan jatuh miskin.
Namun,
tiba-tiba ada seseorang yang datang dan mengaku berasal dari utusan Yaman.
Dia
memberitakan bahwa di negerinya sedang terkena wabah penyakit menular, sehingga
raja Yaman mengutus dirinya untuk mencari kurma busuk. Menurutnya, kurma busuk
adalah salah satu obat yang bisa menyembuhkan dari penyakit menular itu.
Akhirnya
utusan raja Yaman tersebut memborong semua kurma milik Abdurrahman bin Auf
dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma biasa.
ABDURRAHMAN BIN AUF INGIN MISKIN
Suatu hari Abdurrahman bin Auf diberi makanan,
padahal ia sedang berpuasa. Ia pun mengatakan, “Mush`ab bin Umair telah terbunuh,
padahal dia lebih baik dariku. Akan tetapi ketika dia meninggal tidak ada kafan
yang menutupinya selain burdah (apabila kain itu ditutupkan di kepala, kakinya
menjadi terlihat dan apabila kakinya ditutup dengan kain itu, kepalanya menjadi
terlihat).
Demikian pula
dengan Hamzah, dia juga terbunuh, padahal dia lebih baik dariku. Ketika
meninggal, tidak ada kafan yang menutupinya selain burdah. Aku khawatir balasan
kebaikan-kebaikanku diberikan di dunia ini,” kemudian dia menangis lalu
meninggalkan makanan tersebut.
Di sisi lain,
Naufal bin al-Hudzali berkata, “Abdurrahman bin Auf teman bergaul kami. Beliau
adalah sebaik-baik teman. Suatu hari dia pulang ke rumahnya dan mandi. Setelah
itu dia keluar, ia datang kepada kami dengan membawa wadah makanan berisi roti
dan daging, dan kemudian dia menangis.
Kami bertanya,
“Wahai Abu Muhammad (panggilan Abdurrahman bin Auf), apa yang menyebabkan kamu
menangis?”
Ia menjawab,
“Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal dunia dalam keadaan
beliau dan keluarganya belum kenyang dengan roti syair. Aku tidak melihat
kebaikan kita diakhirkan.”
Pada zaman
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam Abdurrahman bin Auf pernah menyedekahkan
separuh hartanya. Setelah itu ia bersedekah lagi sebanyak 40.000 dinar.
Kebanyakan harta bendanya ia peroleh dari hasil perdagangan.
Abdurrahman
bin Auf meninggal diusia 72 tahun dan dikubur di pemakaman Baqi, saat itu
Utsman bin Affan ikut menyalatkannya. Begitu banyak hikmah yang bisa kita petik
dari kisah Abdurrahman bin Auf yang berusaha ingin jatuh miskin karena takut
kepada Rabbnya.
( Dirangkum dan disarikan dari berbagai sumber )